Minggu, 16 Oktober 2011

KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH

kompetensi kepala sekolah kompetensi kepribadian

BAHAN BELAJAR MANDIRI
Musyawarah Kerja Kepala Sekolah
Dimensi Kompetensi Kepribadian
DIREKTORAT JENDERAL
PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN
TENAGA KEPENDIDIKAN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
2009
TUT WURI HANDAYANI
PENGANTAR
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang
Standar Kepala Sekolah telah menetapkan bahwa ada lima dimensi kompetensi
kepala sekolah yaitu: kepribadian, manajerial, kewirausahaan, kewirausahaan
dan sosial. Dalam rangka pembinaan kompetensi kepala sekolah untuk
menguasai lima dimensi kompetensi tersebut, Direktorat Tenaga Kependidikan
telah berupaya menyusun Bahan Belajar Mandiri (BBM).
BBM ini disusun dengan tujuan agar kepala sekolah dapat belajar secara
mandiri tanpa tergantung atau menunggu mendapat tugas sebagai peserta diklat
atau tergantung fasilitator, peneyelenggara, waktu, dan tempat. Dengan
tersusunnya BBM ini diharapkan kepala sekolah dapat belajar secara mandiri di
manapun dan kapanpun.
Kami mengucapkan terimakasih kepada tim penyusun BBM atas dedikasi
dan kerja kerasnya sehingga BBM dapat diselesaikan dengan baik dan tepat
waktu. BBM ini tentu saja belum sempurna. Oleh sebab itu, saran-saran
konstruktif dari pembaca sangat dinantikan dengan senang hati.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa meridhoi upaya-upaya kita dalam
meningkatkan mutu tenaga kependidikan.
Jakarta, Agustus 2009
Direktur Tenaga Kependidikan
Kepribadian MKKS Halaman iii
DAFTAR ISI
PENGANTAR .........................................................................................................ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................... iii
PENDAHULUAN ................................................................................................... 1
A. Pengantar .................................................................................................. 1
B. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ............................................. 1
C. Deskripsi Kegiatan Belajar ......................................................................... 2
D. Kegunaan Bahan Belajar ........................................................................... 3
E. Petunjuk Umum Penggunaan BBM ........................................................... 4
F. Skenario Kegiatan Belajar ......................................................................... 4
KEGIATAN BELAJAR 1 ........................................................................................ 6
Apa dan Bagaimana Kepribadian Kepala SMP Itu? .............................................. 6
A. Pengantar .................................................................................................. 6
B. Uraian Materi ............................................................................................. 7
C. Rangkuman ............................................................................................. 10
D. Refleksi .................................................................................................... 10
KEGIATAN BELAJAR 2 ...................................................................................... 11
Bagaimana Agar Kepala SMP Diteladani? .......................................................... 11
A. Pengantar ................................................................................................ 11
B. Uraian Materi ........................................................................................... 12
C. Rangkuman ............................................................................................. 19
D. Refleksi .................................................................................................... 19
KEGIATAN BELAJAR 3 ...................................................................................... 21
Seberapa Pentingkah Integritas dan Keterbukaan Dalam Kepemimpinan Kepala
SMP? ................................................................................................................... 21
A. Pengantar ................................................................................................ 21
B. Uraian Materi ........................................................................................... 22
C. Rangkuman ............................................................................................. 31
D. Refleksi .................................................................................................... 32
KEGIATAN BELAJAR 4 ...................................................................................... 33
Bagaimana Kompetensi Emosional Berpengaruh Terhadap Keefektifan
Kepemimpinan Kepala SMP? ............................................................................. 33
A. Pengantar ................................................................................................ 33
B. Uraian Materi ........................................................................................... 33
C. Rangkuman ............................................................................................. 43
D. Refleksi .................................................................................................... 43
KEGIATAN BELAJAR 5 ...................................................................................... 44
Bagaimana Mengembangkan Diri Sebagai Pemimpin Pendidikan? ................... 44
A. Pengantar ................................................................................................ 44
B. Uraian Materi ........................................................................................... 45
C. Rangkuman ............................................................................................. 53
D. Refleksi ..................................................................................................... 53
DAFTAR RUJUKAN ........................................................................................... 55
Kepribadian MKKS Halaman 1
PENDAHULUAN
A. Pengantar
Kompentensi kepribadian merupakan kompetensi pertama dari lima
standar kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap kepala sekolah di Indonesia.
Kepribadian menjadi landasan bagi kepemimpinan, karena kepribadian
merupakan serangkaian karakteristik yang dinamis dan terorganisasi yang
dimiliki oleh seseorang pemimpin yang secara unik mempengaruhi kognisi,
motivasi, tingkah laku kepemimpian orang tersebut.
Kepala SMP/MTs merupakan jabatan khusus yang memerlukan
kompetensi dan perilaku khusus. Untuk dapat menjalankan fungsinya sebagai
pemimpin, dipersyaratkan memiliki kepribadian yang khusus pula. Melalui bahan
belajar ini, Anda akan diajak untuk memahami beberapa hal terkait dengan
kepribadian pemimpin tersebut. Agar efektif dalam belajar, sangat dianjurkan
agar Anda melaksanakan semua kegiatan belajar yang dirancang dalam Bahan
Belajar Mandiri (BBM) ini. Apa yang disajikan dalam BBM ini hanya merupakan
hal-hal yang bersifat dasar. Untuk memperkaya pemahaman, keterampilan dan
sikap terkait dengan kepribadian kepala SMP ini Anda dianjurkan untuk
mempelajari dengan seksama sejumlah sumber pustaka sebagaimana tercantum
pada bagian akhir BBM ini. Selamat belajar, semoga Anda menjadi pribadi yang
mantap sebagai pemimpin pendidikan.
B. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Standar kompetensi yang dikembangkan melalui kegiatan balajar ini
adalah kompetensi kepribadian sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional nomor 13 tahun 2007. Sedangkan kompetensi dasar yang
diharapkan dikuasai oleh pembaca meliputi:
1. Memahami pengertian kepribadian dan mampu mengidentifikasi kepribadian
kepala SMP yang ideal;
2. Memahami pentingnya keteladanan dalam kepemimpinan kepala SMP.
3. Memahami langkah-langkah menjadi teladan yang efektif.
4. Mampu bertindak sebagai teladan ahlak mulia.
Kepribadian MKKS Halaman 2
5. Memahami pentingnya integritas dan keterbukaan dalam kepemimpinan
kepala SMP.
6. Mengidentifikasi diri sebagai pemimpin yang transparan.
7. Memahami kompetensi emosional sebagai landasan pengendalian diri
sebagai pemimpin.
8. Mampu menyiapkan diri, bertindak proaktif dan reflektif untuk
mengembangkan diri sebagai pemimpin.
C. Deskripsi Kegiatan Belajar
Pada bahan belajar mandiri ini, Anda akan diajak untuk melakukan
serangkaian kegiatan, yang kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan
penguasaan Anda terhadap kompetensi yang diharapkan dalam BBM ini.
Kegiatan-kegiatan meliputi memahami kompetensi yang dikembangkan, refleksi
awal, telaah bahan bacaan, pembuatan ringkasan, pembuatan peta pikiran (mind
mapping), dan atau refleksi akhir. Kegiatan-kegiatan itu dilaksanakan secara
individual, berkelompok, tutorial, dan atau seminar kecil yang dilaksanakan di
MKKS dimana Anda menjadi anggotanya. Sangat dianjurkan agar Anda
melaksanakan semua tugas dan aktivitas belajar yang disarankan pada masingmasing
Kegiatan Belajar.
Terdapat lima kegiatan belajar yang harus Anda laksanakan dalam BBM
ini. Kegiatan belajar pertama merupakan pengantar yang mengajak Anda untuk
memahami pengertian kepribadian dan mengidentifikasi standar kompetensi
kepala SMP. Empat kegiatan belajar lainnya dirancang untuk mengembangkan
kompetensi-kompetensi yang dianjurkan dalam Dimensi Kepribadian
sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 13
tahun 2007.
Kegiatan Belajar 1: Apa dan Bagaimana Kepribadian Kepala SMP Itu?
Kegiatan Belajar 2: Bagaimana Agar Kepala Sekolah Diteladani?
Kegiatan Belajar 3: Seberapa Pentinkah Integritas dan Keterbukaan
Dalam Kepemimpinan Kepala SMP?
Kegiatan Belajar 4: Bagaimana Kompetensi Emosional Berpengaruh
Terhadap Keefektifan Kepemimpinan Kepala SMP?
Kepribadian MKKS Halaman 3
Kegiatan Belajar 5: Bagaimanakah Mengembangkan Diri Pemimpin
Pendidikan?
Setiap kegiatan belajar diawali dengan paparan tentang kompetensi yang
dikembangkan, petunjuk kegiatan belajar, dan bahan atau peralatan yang
dibutuhkan. Bacalah dengan seksama diskripsi komptensi dan petunjuk tersebut
dan siapkan semua peralatan atau bahan yang diperlukan sebelum Anda
memulai kegiatan belajar.
Dua hal penting harus Anda lakukan sebelum melaksanakan kegiatankegiatan
belajar tersebut:
• Kuatkan komitmen untuk berkembang.
• Yakinkan diri Anda bahwa belajar melalui BBM ini merupakan
kebutuhan bagi setiap kepala SMP, bukan kegiatan rutin yang hanya
ditujukan untuk memenuhi tuntutan proyek.
• Yakinkan diri Anda bahwa hanya dengan belajar dan belajar, Anda
kelak tidak hanya menjadi pemimpin yang baik, namun pasti akan
menjadi pemimpin yang jauh lebih baik, bahkan pemimpin yang
dikagumi. Semoga!
D. Kegunaan Bahan Belajar
BBM ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak sebagai
berikut.
1. Kepala SMP. Bagi kepala SMP yang baru atau yang belum menguasai
standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan, BBM ini
dapat dimanfaatkan sebagai langkah awal pengembangan kompetensi
kepribadian kepala SMP. Sedangkan bagi mereka yang sudah
berpengalaman, BBM ini dapat digunakan sebagai bahan refleksi sekaligus
bahan pengayaan untuk lebih memantapkan kompetensi pribadinya sebagai
pemimpin pendidikan.
2. Musyawarah Kerja Kepala SMP. Beberapa kegiatan belajar yang dirancang
dalam BBM ini menuntut peserta untuk saling berdiskusi dan berbagi
pengalaman tentang kompetensi kepribadian. MKKS merupakan forum yang
Kepribadian MKKS Halaman 4
kondusif untuk melakukan diskusi-diskusi dan kegiatan berbagi pengalaman
tersebut. Dengan menggunakan BBM ini MKKS dapat mengembangkan
profesionallitas kepala SMP yang menjadi anggotanya secara lebih terfokus
dan terarah.
3. Bagi guru SMP yang ingin mengembangkan kariernya sampai menjadi
kepala SMP, bahan belajar mandiri ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan
yang dapat mempersiapkan dirinya menjadi kepala SMP kelak ketika waktu
sudah memungkinkan.
E. Petunjuk Umum Penggunaan BBM
1. Cermati kompetensi yang akan dibentuk sebelum menelaah bahan bacaan.
2. Laksanakan dengan sungguh-sungguh setiap kegiatan yang dianjurkan pada
masing-masing kegiatan belajar.
3. Telaahlah secara cermat dan kritis teks atau bahan bacaan.
4. Lakukan refleksi terhadap apa yang telah Anda kerjakan atau pelajari.
5. Bila mengalami kesulitan, jangan segan melakukan diskusi dengan teman
sejawat di MKKS atau menanyakannya kepada kepala sekolah pemandu.
F. Skenario Kegiatan Belajar
Secara umum kegiatan belajar dibagi menjadi dua tahap: tahap belajar
mandiri dan tahap belajar kelompok di MKKS. Kegiatan belajar mandiri meliputi
refleksi awal, pemahaman bahan belajar, refleksi akhir. Kegiatan belajar
kelompok meliputi diskusi atas pertanyaan yang teridentifikasi dalam kegiatan
mandiri, berbagi praktik baik selama mempelajari BBM ini, dan refleksi
kelompok. Kegiatan kelompok dilakukan dalam forum MKKS dibawah panduan
Kepala Sekolah atau Pengawas Pemandu yang telah ditunjuk. Skenario kegiatan
belajar tersebut dapat digambarkan sebagaimana Gambar 1.
Kepribadian MKKS Halaman 5
Persiapan:
1. Membaca Bagian
Pendahuluan
2. Menyiapkan
Bahan/alat yang
diperlukan
Refleksi Awal:
Membaca Pengantar dan
menjawab soal yang ada
di bagian awal KBM
Membaca Deskripsi
Materi:
1. Membaca secara kritis;
2. Membuat catatancatatan
kecil;
3. Menandai hal-hal yang
penting
KEGIATAN BELAJAR INDIVIDUAL
Refleksi Akhir:
1. Menjawab pertanyaan-pertanyaan
reflektif di akhir masing-masing kegiatan
belajar.
2. Mencatat hal-hal yang belum dapat
dipahami dan pertanyaan-pertanyaan
yang belum terjawab untuk dibawa ke
pertemuan MKKS.
Identifikasi masalah
dan good practices
yang ditemukan dalam
kegiatan belajar
individual
Pembahasan
hal-hal yang belum
dipahami dan
pertanyaan yang
ditemukan saat belajar
individual
Refleksi MKKS:
1. Identifikasi masalah yang belum
terjawab dalam pembahasan;
2. Identifikasi peluang penerapan
bersama;
3. Rencana tindak lanjut
KEGIATAN BELAJAR KELOMPOK (MKKS)
Gambar 1 Skenario Pembelajaran
Tindak Lanjut:
1. MKKS: Mendatangkan fasilitator untuk membantu
menyelesaikan masalah yang belum tuntas di MKKS
2. Individual:
• Penerapan konsep oleh masing-masing sekolah;
• Pemantauan dan pencacatan dampak di masingmasing
sekolah
Kepribadian MKKS Halaman 6
KEGIATAN BELAJAR 1
Apa dan Bagaimana Kepribadian Kepala SMP Itu?
A. Pengantar
Sebelum mempelajari lebih rinci tentang kepribadian kepala SMP, ada
baiknya jika kita memahami terlebih dahulu apa arti dari kata kepribadian, dan
kepribadian seperti apa yang seharusnya dimiliki dan dikembangkan pada setiap
individu yang mendapat amanat menjadi kepala SMP. Pada Kegiatan Belajar 1
ini Anda diajak untuk memahami pengertian dari kata kepribadian tersebut dan
mengidentifikasi pokok-pokok kepribadian khusus yang harus dimiliki dan
dikembangkan oleh seorang kepala SMP.
Sebelum membaca lebih lanjut, Anda dianjurkan untuk menjawab
beberapa pertanyaan berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan kepribadian?
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
2. Apakah Anda mengenal istilah-istilah lain yang mempunyai kedekatan arti
dengan kepribadian?
�� Ya �� Tidak
3. Jika ’Ya’ sebutkan sebanyak-banyaknya istilah-istilah yang Anda maksud!
............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
4. Samakah kepribadian yang seharusnya dimiliki oleh seorang kepala SMP
dengan orang-orang lain pada umumnya?
�� Ya �� Tidak
Kepribadian MKKS Halaman 7
5. Kepribadian seperti apakah yang seharusnya dimiliki oleh seorang kepala
SMP?
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
B. Uraian Materi
1. Apakah Arti Kepribadian?
Kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa inggris, yaitu personality.
Kata personality sendiri berasal dari bahasa latin persona, yang berarti topeng
yang digunakan oleh para aktor dalam suatu permainan atau pertunjukan. Pada
saat pertunjukan para aktor tidak menampilkan kepribadian yang sesungguhnya
melainkan menyembunyikan kepribadiaannya yang asli, dan menampilkan
dirinya sesuai dari topeng yang digunakannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kata kepribadian digunakan untuk
menggambarkan (1) identitas diri, jati diri seseorang, seperti: “Saya seorang yang
pandai bergaul dengan siapa saja”, atau “Saya seorang pendiam”, (2) kesan
seseorang tentang diri anda atau orang lain, seperti “Dia agresif”, atau “Dia jujur”,
dan (3) fungsi-fungsi kepribadian yang sehat atau bermasalah, seperti: “Dia
baik”, atau “Dia pendendam”. Banyak istilah yang memiliki kedekatan arti dengan
istilah kepribadian, seperti karakter, watak, temperamen, ciri-ciri, dan kebiasaan.
Adakah istilah-istilah lain yang dapat Anda sebutkan selain istilah-istilah yang
dicontohkan di atas? Berikut diuraikan arti dari istilah-istilah tersebut.
a. Personality (kepribadian): penggambaran tingkah laku secara deskriptif
tanpa memberi nilai (devaluative).
b. Character (karakter): penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai
(benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit.
c. Dispotition (watak): karakter yang telah lama dimiliki dan sampai sekarang
belum berubah.
Kepribadian MKKS Halaman 8
d. Temperamen (temperamen): kepribadian yang berkaitan erat dengan
determinan biologik atau fisiologik, disposisi hereditas.
e. Traits (sifat): respon yang senada (sama) terhadap sekelompok stimuli
yang mirip, berlangsung dalam kurun waktu yang (relatif) lama.
f. Type–attribute (ciri): mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimuli
yang lebih terbatas.
g. Habit: kebiasaan respon yang sama cenderung berulang untuk stimulus
yang sama pula.
Untuk memperoleh pemahaman lebih lanjut lentang kepribadian, berikut
dikemukakan pengertian kepribadian. Allport mengemukakan bahwa “Personality
is the dinamic organization within the individual of those psychophysical systems
that determine his unique adjustment to his environtment”. Secara harfiah,
pengertian itu dapat diartikan bahwa: “kepribadian merupakan organisasi yang
dinamis dalam diri individu tentang sistem psikofisik yang menentukan
penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungannya”.
Pengertian yang dikemukakan oleh Allport ini menunjukkan bahwa
kepribadian itu bersifat dinamis dan unik. Dinamika kepribadian terkait dengan
dimensi waktu dan lingkungan dimana individu itu berada. Keunikan kepribadian
membuat setiap individu memberikan reaksi atau respon yang berbeda-beda
terhadap lingkungan. Dinamika dan keunikan kepribadian bukan semata-mata
sebagai pembawaan namun juga merupakan hasil dari interaksi individu dengan
lingkungan yang berupa pengalaman atau hasil belajar. Dengan kata lain,
meskipun kepribadian merupakan karakteristik khusus yang ada pada diri
individu, akan tetapi pengalaman dan pembelajaran dapat mengubah dan
mengembangkan karakteristik itu kearah kepribadian yang lebih menguntungkan
bagi diri dan lingkungannya.
Bagi kepala sekolah, dinamika kepribadian harus sejalan dengan
perannya sebagai pemimpin. Perubahan-perubahan kepribadiannya hendaknya
mendukung keefektifan kepemimpinan yang dijalankan. Oleh karena itu, setiap
keunikan respon atau reaksi kepala sekolah terhadap lingkungan juga harus
berupa tingkah laku yang unik yang menguntungkan perannya sebagai
pemimpin. Oleh karena kepribadian merupakan pengalaman dan hasil belajar
maka ketika seseorang mendapat peran sebagai pemimpin harus diubah dan
Kepribadian MKKS Halaman 9
disesuaikan dengan tuntutan peran ini. Bagaimanakah seharusnya kepribadian
berpengaruh terhadap kepemimpinan? Bagaimana seharusnya kepribadian
seorang pemimpin? Berikut diuraikan beberapa karakteristik kepribadian yang
efektif bagi kepemimpinan.
2. Bagaimanakah Kepribadian Kepala SMP Yang Ideal?
Kepribadian sebagai pemimpin juga harus dimiliki oleh setiap kepala
SMP. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 13 tahun 2007
menempatkan kepribadian sebagai dimensi kompetensi pertama dari lima
dimensi kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap kepala SMP di Indonesia.
Kelima dimensi itu adalah:
• Kepribadian
• Manajerial
• Kewirausahaan
• Supervisi
• Sosial
Dalam Dimensi Kepribadian, setiap kepala SMP di Indonesia harus
memiliki enam kompetensi sebagai berikut.
a. berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhalak mulia, dan
menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di sekolah;
b. memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin;
c. memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala
sekolah;
d. bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi;
e. mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan sebagai
kepala sekolah; dan
f. memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.
Dari enam kompetensi kepribadian tersebut dapat ditarik enam kata kunci
yang menggambarkan karakteristik kepribadian yang harus dimiliki oleh setiap
kepala SMP di Indonesia, yaitu: keteladanan, integritas, transparansi,
pengembangan diri, pengendalian diri, dan kepemimpinan pendidikan. Bab-bab
Kepribadian MKKS Halaman 10
selanjutnya dalam bahan belajar ini akan dibahas enam kompetensi kepribadian
kepala sekolah tersebut. Pembaca secara berturut-turut akan mempelajari
pokok-pokok kajian sebagai berikut.
a. Kepala sekolah sebagai teladan akhlak mulia
b. Integritas dan transparansi sebagai dasar kepemimpinan kepala sekolah
c. Kompetensi emosional dan Keefektifan Kepemimpinan
d. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan
e. Pengembangan diri kepala sekolah
C. Rangkuman
Kepribadian adalah serangkaian karakteristik yang dinamis dan
terorganisasi yang dimiliki oleh seseorang yang secara unik mempengaruhi
kognisi, motivasi, tingkah laku orang tersebut dalam berbagai situasi.
Kepribadian bersifat dinamis, terorganisasi, psikofisikal, diterminatif, dan unik.
Kepribadian yang harus dimiliki oleh setiap kepala sekolah di Indonesia meliputi
keteladanan, integritas, transparansi, pengembangan diri, pengendalian diri dan
kepemimpinan pendidikan.
D. Refleksi
Buatlah refleksi pribadi terhadap bahan yang telah Anda pelajari dalam Kegiatan
Belajar 1 ini dengan menuliskan secara singkat (sekitar 200 kata) hal-hal sebagai
berikut.
a. Hal-hal apa yang menarik dari bahan yang Anda pelajari dalam kegiatan
belajar ini?
b. Pertanyaan apa yang mengemuka setelah Anda mempelajari bahan dalam
kegiatan belajar ini?
c. Adakah keterkaitan antara apa yang Anda pelajari dengan pengalaman dan
pengetahuan yang dimiliki sebelumnya?
d. Dapatkah apa yang Anda pelajari tersebut diterapkan di masa di tempat Anda
bertugas?
e. Pada aspek manakah dari bahan belajar tersebut yang Anda merasa perlu
mengembangkan lebih lanjut?
Kepribadian MKKS Halaman 11
KEGIATAN BELAJAR 2
Bagaimana agar Kepala SMP Diteladani?
A. Pengantar
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomot 13 tahun 2007 tentang
Standar Kepla Sekolah menyebutkan bahwa kepala SMP/MTs harus berakhlak
mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhalak mulia, dan menjadi teladan
akhlak mulia bagi komunitas di sekolah. Persoalan yang mengemuka adalah:
Apakah keteladanan berpengaruh terhadap keefektifan kepemimpinan kepala
SMP? Dan Langkah-langkah apa yang dapat dilakukan oleh seorang kepala
SMP agar ia diteladani oleh guru atau tenaga kependidikan yang dipimpinnya?
Kegiatan Belajar 2 ini mengajak Anda untuk menemukan jawaban atas dua
pertanyaan tersebut. Pertama, Anda diajak memahami berbagai pandangan ahli
tentang pentingnya keteladan bagi keefektifan kepemimpinan; dan kedua,
memahami langkah-langkah yang dapat Anda lakukan agar Anda dapat
diteladani oleh semua pihak yang Anda pimpin.
Sebelum membaca bahan yang diuraikan pada Kegiatan Belajar ini, Anda
diminta melakukan refleksi awal dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan
berikut.
1. Apakah Anda setuju terhadap pendapat yang menyatakan bahwa
keteladanan berpengaruh terhadap keefektifan kepemimpinan seorang
kepala SMP?
�� Ya �� Tidak
2. Berikan alasan singkat atas jawaban yang Anda berikan pada pertanyaan
nomor 1!
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
3. Apa yang pernah atau sedang Anda lakukan agar warga sekolah yang Anda
pimpin meneladani perilaku Anda?
.............................................................................................................................
Kepribadian MKKS Halaman 12
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
B. Uraian Materi
1. Apakah keteladanan berpengaruh terhadap keefektivan
kepemimpinan kepala sekolah?
Setiap orang memahami bahwa keteladanan merupakan salah satu
karakteristik penting bagi keberhasilan seorang pemimpin. Teori kepemimpinan
transformasional, sebuah temuan baru dalam perkembangan teori
kepemimpinan, meletakkan keteladanan pada peringkat pertama di antara
sejumlah karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Bass dan
Riggio (2006) menyatakan bahwa pemimpin tranformasional dicirikan oleh empat
komponen yang dikenal dengan “Four I’s”: idealized influence, inspirational
motivation, intelectual inspiration, dan individual consideration. “I” pertama,
idealized influence atau pengaruh yang ideal, menjabarkan tingkah laku dan
pengaruh yang dapat mengembangkan kepercayaan pengikut. Pemimpin yang
demikian ini dipuja, dihormati, dan dipercaya oleh para pengikutnya. Para
pengikutnya bersimpati kepada sang pemimpin dan ingin menirunya dan
disanjung karena dipandang memiliki kemampuan, keberanian, dan keteguhan
pendirian yang luar biasa (Bass dan Riggio 2006).
Kouzes dan Posner (2007) sebagai pengembang teori kepemimpinan
berhaluan transformasional juga meletakkan keteladanan sebagai praktik utama
kepemimpinan yang berhasil. Karena memandang begitu pentingnya
keteladanan, kedua ahli menyebut konsep kepemimpinan yang
dikembangkannya sebagai Kepemimpinan Keteladanan atau Exemplary
Leadership. Dalam teori kepemimpinan keteladanan Kouzes dan Posner (2003
dan 2007) menyatakan bahwa ketika mendapati sesuatu yang luar biasa terjadi,
pemimpinan melaksanakan lima praktik kepemimpin teladan: mencontohkan cara
(Model the Way), menginspirasi visi bersama (Inspire a Shared Vision),
menantang proses (Challenge the Process), memampukan orang lain untuk
bertindak (Enable Others to Act), dan menyemangati jiwa (Encourage the Heart).
Kepribadian MKKS Halaman 13
Dalam kaitannya dengan model the way Kouzes dan Posner (2007)
berpandangan bahwa memimpin berarti bahwa anda harus menjadi contoh yang
baik, dan mewujudkan apa yang Anda katakan. Gelar yang dimiliki seseorang
merupakan pemberian, akan tetapi kehormatan hanya dapat dicapai melalui
tingkah laku seseorang. Apabila pemimpin ingin mendapatkan komitmen dan
mencapai standar tertinggi, ia harus menjadi model tingkah laku yang diharapkan
dari orang lain. Jangan pernah meminta orang lain melakukan sesuatu yang
Anda sendiri tidak mau melakukannya. Pemimpin memberikan model.
2. Bagaimana agar orang lain meneladani perilaku kita?
Agar dapat mencohtohkan perilaku yang diharapkan dari orang lain
secara efektif, pertama-tama pemimpin harus memahami dengan jelas prinsipprinsip
yang memandu perilakunya. Pemimpin harus menemukan pendirian
mereka sendiri, baru kemudian menyuarakan dengan jelas dan tepat nilai-nilai
yang dianutnya itu. Oleh karena pemimpin harus memperjuangkan
keyakinannya, dengan sendirinya setiap pemimpin harus memiliki keyakinan
yang harus diperjuangkan.
Pidato-pidato tentang nilai-nilai bersama saja tidak cukup. Apabila
pemimpin ingin menunjukkan betapa sungguh-sungguhnya ia terhadap apa yang
ia katakan, perbuatan pemimpin jauh lebih penting dari pada kata-kata yang
diucapkan. Kata dan perbuatan harus konsisten. Pemimpin teladan selalu berada
di depan. Mereka berada di depan dengan cara memberikan contoh melalui
kegiatan sehari-hari yang menunjukkan bahwa dia memiliki komitmen yang kuat
terhadap apa yang diyakininya. Pemimpin memahami kekuatan mencurahkan
waktu untuk bersama dengan orang lain, bekerja saling membantu dengan
sejawat, dan menyampaikan cerita-cerita yang dapat menghidupkan nilai-nilai
yang dianut, berkeyakinan kuat dalam ketidak pastian, dan mengajukan berbagai
pertanyaan agar orang lain mengungkapkan aspirasi dan keinginannya.
“Modeling the way is about earning the right and the respect to lead through
direct involvement and action. People follow first the person, then the plan.”
(Kouzes dan Posner, 2007:16).
Dari uraian di atas Kouzes dan Posner (2007) menyarankan dua langkah
penting agar keteladanan kita efektif. Pemimpin pertama kali harus menemukan
suara hatinnya dengan memperjelas nilai-nilai pribadi yang dianutnya baru
Kepribadian MKKS Halaman 14
kemudian memberi contoh dengan cara menyelaraskan tindakannya dengan
nilai-nilai bersama. Berikut diuraikan secara singkat rincian dari kedua langkah
tersebut.
a. Memperjelas nilai-nilai yang dianut
Guru-guru dan staf sekolah berharap agar kepala sekolah menyuarakan
nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut. Untuk berbicara sesuatu kepala
sekolah harus mengetahui apa yang sedang ia bicarakan. Untuk
memperjuangkan keyakinannya, kepala sekolah harus mengetahui apa yang
Anda perjuangkan. “To walk the talk, you have to have a talk to walk” (Kouzes
dan Posner, 2007:47). Untuk melakukan apa yang dikatakan, kepala sekolah
harus mengetahui apa yang ingin ia katakan. Untuk mendapatkan dan
mempertahankan kredibilitas, peratama-tama kepala sekolah harus mampu
mengartikulasikan dengan jelas keyakinan yang ia pegang teguh.
Inilah sebabnya maka memperjelas nilai-nilai merupakan komitmen
pertama seorang kepala seolah. Memperjelas nilai merupakan awal mula dari
semua hal yang terkait dengan kepemimpinan. Untuk memperjelas nilai-nilai
yang dianut, kepala sekolah harus melakukan dua hal berikut:
• Temukan suara hati Anda
• Selaraskan dengan nilai bersama
Untuk menjadi pemimpin yang kredibel, kepala sekolah harus benarbenar
memahami keyakinan—nilai, prinsip, standar, etika, dan idealisme—yang
dipegang teguh yang menjadi pemandu tindakannya. Kepala sekolah harus
memilih dengan jujur prinsip-prinsip yang akan digunakan sebagai landasan
dalam mengambil keputusan dan melakukan tindakan. Kepala sekolah harus
mampu mengekspresikan dirinya sendiri. Kepala sekolah harus
mengkomunikasikan keyakinannya dengan cara-cara yang autentik dan unik
sehingga dapat merepresantasikan siapa dirinya.
Akan tetapi kepala sekolah tidak boleh hanya berbicara tentang dirinya
sendiri ketika mengemukakan nilai-nilai yang menjadi pemandu pengambilan
keputusan dan tindakannya. Ketika seorang kepala sekolah mengungkapkan
komitmennya tentang kualitas dan inovasi pendidikan, atau nilai-nilai utama
lainnya, seharusnya kepala sekolah tidak mengucapkan, “Saya yakin akan hal
ini.” Dia membangun komitmen semua warga sekolah dengan mengatakan, “Kita
Kepribadian MKKS Halaman 15
semua yakin akan hal itu.” Oleh karena itu, kepala sekolah bukan hanya harus
memperjelas nilai pribadinya akan tetapi juga harus memastikan adanya
serangkaian nilai-nilai yang disepakati Di antara semua warga sekolah yang
dipimpinnya.
Meskipun merupakan hal yang esensial bagi setiap kepala sekolah,
kejelasan nilai-nilai pribadi saja tidak cukup. Kepala sekolah tidak hanya
berbicara dengan dirinya sendiri, dia juga harus berbicara dengan warga sekolah
yang dipimpinnya. Harus ada kesepakatan atas nilai bersama yang dipegang
teguh oleh setiap orang yang ada di sekolah. Nilai-nilai bersama akan
menghasilkan perbedaan yang positif dan signifikan dalam hal sikap dan kinerja
warga sekolah, dan pemahaman bersama terhadap nilai-nilai itu akan tumbuh
melalui proses, bukan melalui slogan-slogan atau pengumuman. Kebersamaan
akan terbangun melalui dialog. Pengembangan kompetensi merupakan hal
esensial yang harus dilakukan untuk memastikan bahwa setiap warga sekolah
mampu bertindak atas dasar nilai bersama. Kredibilitas, baik individual meupun
organisasional, bukan hanya janji—melalinkan juga kemampuan untuk
mewujudkan janji itu.
Kouzes dan Posner (2007) menyarankan tiga cara untuk
mengembangkan kompetensi yang diperlukan dalam memperjelas nilai tersebut:
(1) tulis sebuah harga untuk diri anda, (2) tulis kredo Anda, dan (3) lakukan
dialog kredo. Berikut diuraikan langkah-langkah yang dapat ditempuh ketiga cara
ini.
1) Berapakah harga diri Anda?
Proses memperjelas nilai-nilai dapat diawali dengan melakukan refleksi
terhadap sosok diri ideal yang Anda bayangkan—Anda ingin dilitah seperti apa
oleh orang lain. Ungkapan-ungkapan seperti apa yang Anda inginkan untuk
diucapkan oleh orang lain tentang diri Anda? Bagaimana Anda ingin dikenang
oleh orang lain? Uraian tentang diri seperti apa yang paling Anda banggakan?
Ungkapan dan sifat-sifat seperti itu memang terkesan muluk-muluk dan ideal.
Akan tetapi, semakin kuat kejelasan, keyakinan, dan cita-cita terhadap standar
keunggulan pribadi, semakin besar peluang kita untuk berbuat sesuai dengan
cita-cita itu.
Kepribadian MKKS Halaman 16
2) Tuliskan kredo anda
Bayangkan bahwa Dinas Pendidikan memberi kesempatan kepada Anda
untuk cuti selama enam bulan dan melakukan perjalanan ke luar negeri dan
semua biaya hidup Anda ditanggung oleh Dinas. Selama di luar negeri Anda
tidak diperbolehkan untuk berkomunikasi dengan siapapun di sekolah Anda
melalui cara apapun. Akan tetapi sebelum berangkat, Anda menginginkan agar
orang-orang di sekolah Anda memahami bahwa prinsip-prinsip yang Anda yakini
harus menjadi dasar dalam pengambilan keputusan dan bertindak selama Anda
tidak di tempat. Mereka harus mengetahui nilai-nilai dan keyakinan yang Anda
anggap harus mengarahkan jalannya sekolah selama Anda di luar negeri.
Setelah semuanya dianggap cukup, Anda berharap akan mampu menyesuaikan
diri dan meneruskannya ketika Anda kembali.
Untuk itu semua Anda tidak perlu menulis laporan yang panjang lebar.
Tulislah ”Memo Kredo” satu halaman saja dan biasanya hanya diperlukan waktu
sekitar lima sampai sepuluh menit untuk menulisnya. Cara ini tidak dimaksudkan
untuk menggantikan pemahaman diri secara mendalam, akan tetapi hanya
dimaksudkan untuk melakukan langkah awal untuk mengartikulasikan prinsipprinsip
yang membimbing Anda. Untuk memperdalam proses klarifikasi, lakukan
identifikasi terhadap nilai-nilai yang tertulis dalam memo Anda tadi dan susunlah
sesuai dengan skala prioritasnya atau tingkat kepentingannya. Memaksa diri
mengekspresikan preferensi semacam itu akan memampukan Anda untuk
melihat kekuatan dari masing-masing nilai
3) Lakukan dialog kredo
Kumpulkan semua guru dan staf sekolah yang Anda pimpin. Mintalah
mereka untuk menuliskan memo kredo dengan cara yang Anda lakukan seperti
di atas. Mintalah masing-masing orang untuk membahas dalam kelompok kecil
tentang apa yang telah mereka tulis. Mintalah mereka untuk menjelaskan apa
yang mereka tulis dan mengapa mereka memilih nilai-nilai itu. Anda dapat
memberi contoh kepada mereka.
Ingatkan mereka bahwa tujuan dari kegiatan adalah untuk memperoleh
kejelasan. Anda hanya menginginkan mereka memahami nilai masing-masing;
Kepribadian MKKS Halaman 17
pada tahap ini tidak harus dicapai kesepakatan. Sarankan mereka saling
meminta penjelasan apabila belum memahami sesuatu.
Jika setiap orang telah mengemukakan nilai-nilai kunci masing-masing,
mintalah kelompok-kelompok tersebut untuk melakukan refleksi terhadap apa
yang telah mereka diskusikan. Mintalah mereka untuk mengidentifikasi nilai-nilai
yang serupa dari masing-masing orang. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk
mendapatkan nilai bersama. Akan tetapi, hal yang terpenting adalah bahwa Anda
telah memulai untuk membangun konsensus terhadap sejumlah nilai-nilai umum
yang digali dari kelompok dan tidak dengan cara dipaksakan dari atas.
b. Bertindak selaras dengan nilai bersama
Berbicara tentang memberi contoh pasti terkait dengan pelaksanaan
tindakan. Kouzes dan Posner (2007:75) menyatakan: “[setting the examples] is
about putting your money where your mouth is..” Memberi contoh adalah
mempraktikkan apa yang Anda pidatokan, melaksanakan komitmen, memenuhi
janji, bertindak sesuai ucapan, dan melalukan apa yang Anda katakan.
Oleh karena kepala sekolah merupakan pemimpin orang lain—dan bukan
hanya memimpin dirinya sendiri—maka memipin juga berkaitan dengan apa
yang dilakukan warga sekolah. Seberapa konsistenkah antara tindakan dan katakata
mereka? Sejauh mana mereka mempraktikkan apa yang mereka serukan?
Sebagai pemimpin, kepala sekolah bertanggung jawab atas apa yang mereka
lalukan.
Terdapat dua hal esensial yang diperlukan dalam pemberian
keteladanan, satu terfokus pada diri kepala sekolah itu sendiri dan yang lain
terfokus pada warga sekolah yang dipimpinnya. Yang pertama dilakukan melalui
mempribadikan nilai bersama dan yang berikutnya membelajarkan orang lain
untuk memodelkan nilai-nilai itu. Untuk mempraktikkan kedua hal itu, kepala
sekolah menjadi model bagi apa yang diperjuangkan oleh semua warga sekolah
lainnya dan juga menciptakan budaya dimana setiap orang berkomitmen untuk
menyelaraskan dirinya dengan nilai-nilai bersama.
Kepribadian MKKS Halaman 18
1) Mempribadikan nilai bersama
Jika seorang kepala sekolah menginginkan hasil yang lebih baik dalam
mempribadikan nilai-nilai bersama, ia harus memastikan bahwa ia
mempraktikkan apa yang ia khotbahkan. Dia lebih banyak berbicara dengan
perbuatan dari pada dengan kata-kata.
Kepala sekolah adalah duta bagi nilai-nilai bersama semua warga
sekolah. Misi kepala sekolah adalah untuk merepresentasikan nilai-nilai dan
standar sekolah kepada siapapun dan dimanapun. Kouzes dan Posner (2007)
menyarankan beberapa cara sebagai berikut untuk secara pribadi memberikan
teladan tentang nilai bersama di lingkungan sekolah.
• Gunakan waktu dan perhatian secara bijaksana. Gunakan sumber daya tak
terbarukan ini hanya untuk nilai-nilai yang paling penting.
• Hati-hati dalam memilih kosa kata. Gunakan kata-kata dan frasa yang
mampu memberikan ekspresi terbaik terhadap budaya yang Anda inginkan.
• Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang bermakna. Ajukan pertanyaanpertanyaan
yang secara sengaja dimaksudkan untuk menstimulasi orang
untuk berfikir lebih bermakna tentang nilai-nilai bersma.
• Mintalah balikan. Tanyakan kepada orang lain tentang dampak dari perilaku
Anda terhadap kinerja mereka.
2) Membelajarkan Orang Lain Untuk Memodelkan Nilai-Nilai Bersama
Orang-orang di sekitar sekolah tidak hanya melihat kepala sekolah,
mereka juga memperhatikan warga sekolah lainnya. Mereka menaruh perhatian
terhadap apa yang dikatakan dan dilakukan oleh warga sekolah. Bukan hanya
kepala sekolah yang diperhatikan konsistensinya antara kata dan perbuatan.
Semua warga sekolah merupakan pengirim sinyal tentang apa yang dihargai dan
juga keteladanannya. Salah satu tugas kepala sekolah adalah menjamin bahwa
tindakan semua warga sekolah sejalan dengan nilai-nilai bersma. Berikut ini
beberapa cara yang dapat dilakukan kepala sekolah untuk membelajarkan warga
sekolah lainnya sehingga mereka turut bertanggung jawab bagi kehidupan nilainilai
bersama.
Kepribadian MKKS Halaman 19
• Hadapi kejadian-kejadian penting. Beri respon terhadap kejadian-kejadian
yang mengganggu dalam kehidupan sekolah dengan cara-cara yang
memperkuat nilai-nilai utama.
• Sempaikan melalui cerita. Berilah contoh-contoh kepada khalayak sekolah
tentang apa yang dilakukan oleh warga sekolah dalam menghidupkan nilainilai
bersama, dan pastikan untuk selalu menyebutkan “moral pada akhir
cerita.”
• Beri penguatan terhadap perilaku yang Anda inginkan. Buatlah nilai dan ukur
kinerja untuk menentukan konsistensi dengan nilai-nilai bersama. Berikan
pengakuan dengan cara yang terukur maupun tidak terukur terhadap kinerja
yang konsisten dengan nilai-nilai yang dianut.
C. Rangkuman
Teori kepemimpinan terbaru meletakkan keteladanan pada peringkat
pertama di antara sejumlah karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang
pemimpin. Menjadi pemimpin pada dasarnya menjadi contoh yang baik, dan
mewujudkan apa yang Anda katakan. Agar diteladani, pertama-tama kepala
sekolah harus benar-benar memahami prinsip-prinsip yang memandu
perilakunya. Kepala sekolah harus menemukan pendirian mereka sendiri, baru
kemudian menyuarakan dengan jelas dan tepat nilai-nilai yang dianutnya itu.
Oleh karena pemimpin harus memperjuangkan keyakinannya, dengan sendirinya
setiap pemimpin harus memiliki keyakinan yang harus diperjuangkan. Menjadi
teladan adalah mempraktikkan apa yang Anda pidatokan, melaksanakan
komitmen, memenuhi janji, bertindak sesuai ucapan, dan melalukan apa yang
Anda katakan.
D. Refleksi
Buatlah refleksi pribadi terhadap bahan yang telah Anda pelajari dalam Kegiatan
Belajar 2 ini dengan menuliskan secara singkat (sekitar 200 kata) hal-hal sebagai
berikut.
a. Adakah keterkaitan antara apa yang Anda pelajari dengan pengetahuan yang
dimiliki sebelumnya?
b. Hal-hal apa yang menarik dari bahan yang Anda pelajari dalam kegiatan
belajar ini?
Kepribadian MKKS Halaman 20
c. Pertanyaan apa yang mengemuka setelah Anda mempelajari bahan dalam
kegiatan belajar ini?
d. Sejauh mana Anda telah mempraktikkan hal-hal yang dianjurkan dalam
kegiatan belajar tersebut?
e. Pada aspek manakah dari bahan belajar tersebut yang Anda merasa perlu
mengembangkan lebih lanjut?
Kepribadian MKKS Halaman 21
KEGIATAN BELAJAR 3
Seberapa Pentingkah Integritas dan Keterbukaan Dalam
Kepemimpinan Kepala SMP?
A. Pengantar
Jawaban terhadap pertanyaan pokok yang diajukan dalam Kegiatan
Belajar ini pastilah “Penting” bahkan mungkin “Amat Penting”. Kegiatan Belajar 3
ini dimaksudkan untuk lebih meyakinkan kita bahwa integritas merupakan
kepribadian yang mutlak harus dimiliki oleh setiap kepala sekolah. Anda akan
diajak untuk melihat bagaimana pentingnya integritas diakui sebagai nilai
universal paling penting dalam kepemimpinan dan cara apa yang dapat Anda
lakukan untuk membangun kredibilitas Anda sebagai kepala sekolah. Diakhir
kegiatan, Anda diajak untuk belajar bagaimana seharusnya seorang kepala
sekolah melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin yang transparan.
Sebelum menelaah lebih lanjut materi yang dipaparkan dalam Kegiatan
Belajar ini sebaiknya Anda melaksanakan tugas-tugas berikut ini.
1. Bacalah dengan cermat sejumlah karakteristik pemimpin yang diharapkan
oleh orang-orang yang dipimpin yang dicantumkan berikut ini!
2. Berdasarkan pendapat Anda sendiri, buatlah urutan dari karakteristik yang
paling penting dan yang paling tidak penting dengan cara menuliskan angka
1 sampai dengan 20 pada kolom peringkat. Anda tidak diperbolehkan
meletakkan lebih dari satu karakteristik pada setiap tingkatan.
Karakteristik Peringkat Karakteristik Peringkat
Amanah Imanjinatif
Ambisius Jujur
Berani Kompeten (Competent)
Berorientasi ke masa depan Kooperatif
Berpendirian kuat Mandiri
Adil Membangkitkan semangat
Berwawasan luas Mengendalikan diri
Cerdas (intelligent) Peduli
Kepribadian MKKS Halaman 22
Dapat diandalkan Setia
Dewasa Suportif
3. Tuliskanlah tiga karakteristik yang Anda pandang paling penting dan tiga
karakteristik yang Anda pandang paling tidak penting. Berikan alasan singkat
mengapa Anda tentang pilihan Anda ini.
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................................................................
B. Uraian Materi
1. Integritas Sebagai Nilai Universal
Dalam bahasa Inggris, kata integrity sering dimaknai dengan honesty
atau kejujuran. Integritas merupakan karakteristik yang paling penting yang harus
dimiliki oleh seorang pemimpin. Berbagai teori kepemimpinan terbaru
menawarkan sejumlah karakteristik pemimpin ini yang efektif. Kouzes dan
Posner (2007) melakukan survei terhadap lebih dari tujuh puluh lima ribu orang
yang berasal dari berbagai kalangan. Pertanyaan yang diajukan dalam survei itu
adalah “Sifat atau karakteristik pribadi seperti apa yang Anda cari dan kagumi
dari pemimpin Anda?”
Survei yang dilakukan sebanyak empat kali, tahun 1987, 1995, 2002, dan
2007. Kouzes dan Posner (2007) secara ajeg menemukan empat karakteristik
yang menduduki peringkat tertinggi dari dua puluh karakteristik pemimpin yang
dikagumi. Keempat karakteristik itu meliputi:
• Jujur (honets)
• Berpandangan ke depan (foward looking)
• Menginspirasi (inspiring)
• Kompeten (competent)
Kepribadian MKKS Halaman 23
Keajegan itu tidak saja terjadi dari survei satu ke yang lain, akan tetapi
juga tidak menunjukkan perbedaan jika dilihat dari perbedaan demografi,
organisasi, maupun budaya. Posisi dua puluh karakteristik pemimpin yang
dikagumi hasil empat survei Kouzes dan Posner (2007) tersebut disajikan dalam
Tabel 1.1. Selanjutnya untuk mengetahui hasil survei yang menunjukkan posisi
empat karakteristik utama dari berbagai negara didunia ditunjukkan pada Tabel
1.2
Tabel 1.1 Karakteristik Pemimpin Yang Dikagumi (Kouzes dan Posner, 2007)
Karakteristik
Persentase Responden Terhadap
Masing-Masing Karakteristik
2007 2002 1995 1987
Jujur 89 88 88 83
Berorientasi Ke Depan 71 71 75 62
Kompeten 69 65 68 58
Membangkitkan Semangat 68 66 63 67
Cerdas 48 47 40 43
Adil 39 42 49 40
Berwawasan Luas 36 34 33 34
Suportif 35 40 40 37
Amanah 35 35 41 32
Dapat diandalkan 34 33 32 33
Kooperatif 25 28 28 25
Berani 25 20 29 27
Berpendirian kuat 25 23 17 17
Peduli 22 20 23 26
Imnaginatif 17 23 28 34
Matang 15 21 13 23
Ambisius 16 17 13 21
Loyal 18 14 11 11
Mengendalikan diri 10 8 5 13
Mandiri 4 6 5 10
Tabel 1.2 Perbandingan Antar Budaya Tentang Empat Karakteristik Pemimpin
Yang Paling Dikagumi (Kouzes dan Posner, 2007)
Negara
Persentase Responden Yang Memilih Masing-Masing
Karakteristik
Jujur Berpandangan
Ke Depan Menginspirasi Kompeten
Australia 93 83 73 59
Canada 88 88 73 60
Kepribadian MKKS Halaman 24
Jepang 67 83 51 61
Korea 74 82 55 62
Malaysia 95 78 60 62
Meksiko 85 82 71 62
New Zealand 86 86 71 68
Singapura 72 76 69 76
Swedia, Denmark 84 86 90 53
Amerika Serikat 89 71 69 68
Hasil survei yang dilakukan Kouzes dan Posner (2007) tersebut secara
konsisten membuktikan bahwa kejujuran sebagai unsur yang paling penting
dalam hubungan antara pemimpin dan pengikutnya. Persentasenya memang
berbeda-beda, namun peringkatnya tidak pernah berubah sejak pertama
dilakukan penelitian pada tahun 1980-an hingga tahun 2000-an. Kejujuran tetap
berada pada posisi teratas dibandingkan karakteristik penting lainnya.
Hasil survei ini menguatkan pandangan bahwa siapapun dan dimanapun
mereka berada apabila akan mengikuti pertama-tama mereka ingin memastikan
bahwa orang yang diikuti tersebut layak dipercaya. Hal ini juga berlaku bagi
konstituen kepala sekolah. Guru-guru, staf sekolah, para siswa, dan warga
sekolah manapun akan bersedia mengikuti kepala sekolah apabila mereka yakin
sepenuhnya bahwa sang kepala sekolah adalah orang yang dapat dipercaya.
Kalau dilakukan generalisasi hasil survei tersebut dapat diartikan bahwa hampir
90% warga sekolah menginginkan kepala sekolah adalah orang yang jujur.
Hampir semua orang tidak ingin dibohongi atau ditipu. Kita ingin melihat
kejujuran pada siapapun. Pendidik, tenaga kependidikan, dan siswa
menginginkan kepala sekolahnya sebagai sosok yang tahu mana yang benar
dan mana yang salah. Di antara semua kualitas yang dikagumi dari seorang
pemimpin, kejujuran merupakan sifat yang paling pribadi. Kejujuran merupakan
sifat pribadi yang mampu mengangkat atau menghancurkan reputasi pribadi
seseorang. Orang dengan rela mengikuti pemimpin yang jujur karena
kemungkinan ia akan dilihat sebagai orang yang jujur pula, begitu juga
sebaliknya. Apabila kita mengikuti pemimpin yang dinggap tidak jujur dapat
diartikan bahwa kita telah mengorbankan integritas kita sendiri. Lambat laun, kita
tidak hanya menghancurkan harga diri sang pemimpin, tetapi sebenarnya juga
tidak menghargai diri kita sendiri.
Kepribadian MKKS Halaman 25
Bagaimana karekteristik subyektif seperti kejujuran kepala sekolah diukur
oleh orang-orang yanng dipimpinnya? Konsistensi antara kata dan perbuatan
merupakan cara bagaimana orang melihat kejujuran. Guru-guru menunggu apa
yang akan ditunjukkan oleh kepala sekolah kepada mereka; guru-guru itu
mengamati perilaku kepala sekolah.
Kejujuran terkait erat dengan nilai-nilai dan akhlak mulia. Guru-guru akan
menghargai orang yang memegang teguh prinsip-prinsip yang mendasar. Guruguru
pasti menolak untuk mengikuti kepala sekolah yang kurang percaya
terhadap keyakinannya sendiri. Oleh karena itu kepala SMP harus meperjelas
nilai-nilai, etika, dan standar yang dianutnya dan menyampaikannya kepada
semua pihak yang dipimpinnya.
2. Integritas Merupakan Dasar Kredibilitas
Kredibilitas merupakan landasan kepemimpinan. Kouzes dan Posner
(2007) melakukan penelitian terhadap apa yang dipahami orang tentang
kredibilitas. Beberapa ungkapan berikut digunakan orang ketika ditanya apa
yang mereka pahami tentang kredibilitas seorang pemimpin.
• “Pemimpin mempraktikkan apa yang mereka khotbahkan.”
• “Pemimpin melakukan apa yang mereka katakan.”
• “Tindakan pemimpin konsisten dengan perkataannya.”
• “Pemimpin berani bertaruh atas kebenaran perkataan mereka.”
• “Pemimpin menepati apa yang ia janjikan.”
• “Pemimpin melakukan apa yang dikatakan akan ia lakukan.”
Berdasarkan jawaban-jawaban tersebut dapat diartikan bahwa ketika
orang akan memutuskan apakah seorang pemimpin dapat dipercaya atau tidak,
terlebih dahulu orang tersebut akan mendengar kata-katanya, kemudian
memperhatikan tindakannya; terlebih mendengar perkataannya, kemudian memperhatikan
bagaimana melaksanakannya; mendengar janji-janjinya, kemudian
menunggu apakah janji-janji itu diikuti dengan bukti. Predikat “kredibel” akan
diberikan ketika terjadi keselarasan antara kata dan perbuatan. Akan tetapi jika
sebaliknya, tidak jarang si pemimpin akan menerima predikat “munafik”. Jika
kepala sekolah sering mengungkapkan sejumlah nilai tapi dalam praktiknya
melakukan nilai-nilai yang lain, maka guru-guru yang dipimpinnya akan
Kepribadian MKKS Halaman 26
memandangnya sebagai orang yang berpura-pura. Jika kepala sekolah
mempraktikkan apa yang dipidatokan, warga sekolah yang dipimpinnya akan
lebih bersedia untuk mempertaruhkan karier, jaminan.
Berdasarkan pemahaman-pemahaman tersebut Kouzes dan Posner
(2007:38) merumuskan Hukum Pertama Kepemimpinan yang berbunyi:
“If you don’t believe in the messenger, you won’t believe the
message.”
“Jika Anda tidak mempercayai si pembawa pesan, Anda tidak akan
memperacayai pesannya”
Berdasarkan hukum ini, Kouzes dan Posner (2007:38) menganjurkan
membangun kredibilitas merupakan prasyarat agar seorang pemimpin dipercaya
oleh konstituennya. Untuk membangun kredibilitas, kedua ahli itu menganjurkan
Hukum Kedua Kepemimpinan (Kouzes dan Posner, 2007:40):
DWYSYWD: Do What You Say You Will Do
LAAKAAL: Laksanakan Apa Yang Anda Katakan Akan Anda
Laksanakan”
LAAKAAL mencakup dua unsur: katakan dan lakukan. Terkait dengan
uraian pada bab sebelumnya, agar kredibel pemimpin pertama-tama harus
memperjelas keyakinannya; mereka harus tahu apa yang mereka yakini. Hal ini
masih terkait dengan ’katakan’. Selanjutnya pemimpin harus menunjukkan
perkataan tersebut dalam kenyataan. Para pemimpin itu harus bertindak sesuai
dengan kepercayaannya dan ’lakukan’.
3. Apakah Anda Pemimpin Yang Transparan?
Setiap tahun, konsultan manajemen dan buku-buku bisnis menerbitkan
berbagai macam kajian tentang kepemimpinan, dan jika kita membaca bukubuku
itu kita akan berfikir bahwa menjadi pemimpin harus memahami gambargambar,
diagram, atau formula-formula yang rumit. Sebenarnya kepemimpinan
jauh lebih sederhana. Hal yang benar adalah bahwa siapapun dapat
mengembangkan keterampilan kepemimpinan—akan tetapi dibutuhkan orang
Kepribadian MKKS Halaman 27
khusus untuk menjadi pemimpin yang transparan. Intinya adalah siapapun dapat
menjadi pemimpin, akan tetapi diperlukan orang yang unik untuk menjadi
seorang pemimpiin yang transparan. Kepemimpinan yang baik merupakan
keterampilan yang dapat dipelajari, dan kita harus bekerja keras untuk
mendapatkannya.
Berbabagi teori kepemimpinan menganjurkan bahwa untuk menjadi
pemimpin yang hebat dibutuhkan persyaratan-persyaratan yang rumit. Hal ini
sering mambuat kita bingung. Akan tetapi ada hal mendasar yang ada pada
semua teori itu, yakni barometer keberhasilan yang sebenarnya adalah
transparansi. Jika pemimpin tidak transparan, tidak masalah jika ia seorang
pelaksana yang baik, jika ia rendah hati atau pemberani, bahkan jika ia memiliki
charisma yang besar. Yang menjadi masalah adalah apakah ia dapat bercermin
dan berefleksi dengan sebenar-benarnya, dan merasa senang ketika bangun
pagi dan bermain-main dengan kejujuran dan integritas. Tidak dapat dipisahkan
antara pemimpin yang transparan dengan orang yang transparan, karena
orang-orang yang menjalani hidupnya secara terbuka dan jujur akan
melakukan hal yang sama ketika menjalankan bisnis. Untuk menjadi
pemimpin yang terbaik, Anda harus memiliki konsep yang jelas dan jujur
tentang nilai-nilai yang Anda anut, sumbangan anda terhadap organisasi, dan
sejauh mana semua itu memberi makna bagi Anda dan sekolah yang Anda
pimpin.
a. Transparansi Memerlukan Keberanian
Kadang-kadang transparansi menyakitkan. Hal ini karena kegagalan tidak
pernah diketahui sebelumnya, dan hal pertama yang masuk dalam benak
Anda adalah beri dia kesempatan sekali lagi. Keinginan untuk membebaskan
seseorang dari dugaan berbuat salah merupakan hal yang manusiawi, akan
tetapi jika terkait dengan integritas, Anda tidak dapat melakukan hal itu.
Jika Anda transparan berarti Anda telah membuat keputusan yang sulit, yang
memerlukan keberanian. Jika Anda transparan, anda telah menunjukkan
keberanian pada saat pengambilan keputusan berdasarkan apa yang benar,
dan hal itu bukan hal yang mudah. Penting untuk diakui, oleh karena
transparansi bukan tren—melainkan sebuah proses dan bersifat evolutif.
Kepribadian MKKS Halaman 28
b. Tugas-Tugas Pemimpin Yang Transparan
Hanya kepala sekolah yang baik yang mengetahui bahwa satu-satunya
cara untuk mengembangkan bawahan atas dasar integritas adalah kerja keras
untuk menegakkan integritas itu. Kepala sekolah semacam ini memahami bahwa
apabila guru-guru dan staf sekolah yang takut terhadap konsekwensi yang
diakibatkan oleh kesalahan-kesalahan sederhana yang mereka buat akan
berusaha menutupi kesalahan-kesalahan itu. Budaya transparan merupakan
budaya dimana para pendidik dan tenaga kependidikan mau mengakui masalahmasalah
yang dihadapi dan bersedia mengatakan kesalahan yang dilakukan.
Kepala sekolah yang baik akan memahami bahwa budaya keterbukaan mampu
mengembangkan mereka yang suka menyembunyikan kesalahan dan baru
mengungkapkannya setelah kerusakan yang bersar terjadi.
1) Kepala Sekolah Yang Transparan Harus Menumbuhkan Integritas
Ketika kepala sekolah menjumpai salah satu dari guru tidak pernah
menunjukkan integritas dan berbohong tentang sesuatu, pertama-tama kepala
sekolah itu harus menguji apakah perilaku yang mendorong kebohongan
tersebut atau apakah kebohongan itu sendiri merupakan perilaku yang dapat
berdampak negatif terhadap sekolah. Pada akhirnya, diharapkan kepala sekolah
dikenang sebagai pemimpin yang berbudi yang bersedia membantu di situasi
yang tidak menentu, dari pada orang yang kejam yang hanya diam dan
membiar pengikutnya tenggelam bergelimang kesalahan.
2) Kepala Sekolah Yang Transparan Harus Bersedia Mendengarkan
Menjadi pendengar yang baik bukan hal yang mudah. Tidak seperti
binatang, manusia harus usaha yang sungguh-sungguh untuk dapat
mendengarkan. Oleh karena itu kita harus berusaha keras untuk
mengembangkan keterampilan mendengarkan. Kita harus berkeyakinan bahwa
mendengarkan merupakan komponen penting untuk memimpin.
Mendengarkan merupakan hal yang sangat penting bagi pemimpin
unggul. Jika Anda menginginkan kebenaran, Anda harus berada pada tempat
yang benar dan mendengarkan dengan baik; jika tidak, informasi yang Anda
terima akan tersaring melalui guru atau wakil-wakil Anda sehingga menjadi
Kepribadian MKKS Halaman 29
jernih, bersih, dan ... menyimpang. Akibatnya, Anda tidak akan mendengar isuisu
yang berakibat negatif terhadap sekolah, Anda tidak akan mendengar
tentang guru yang membuat orang tua siswa marah, dan tidak pula akan
mendengar tentang wakil-wakil Anda yang membuat pengaruh negatif terhadap
produktivitas guru. Jika kepala sekolah menciptakan saluran-saluran informasi
pada setiap level dan membuat kebijakan “buka pintu” yang mendorong guruguru
berkomunikasi dengannya, maka kepala sekolah itu akan dapat mendengar
yang baik dan yang buruk, dan mendeteksi badai sebelum menerjang. Jadilah
pendengar yang baik. Anda pasti akan terkejut betapa besarnya pelajaran yang
akan Anda peroleh.
Jika kepala sekolah merupakan pemimpin yang transparan yang bersedia
mendengarkan guru yang dipimpinnya, maka perubahan yang hakiki akan terjadi
di sekolah. Pintu selalu terbuka, dan ide-ide baru selalu digali, ditumbuh
kembangkan, dan diwujudkan dalam tindakan. Kepala sekolah terbaik adalah
yang benar-benar mau mendengarkan pengikutnya. Mendengarkan dapat
memberi pengetahuan yang tidak diketahui sebelumnya, namun juga dapat
menuai ganjaran ketika hal itu berdampak pada peningkatan moral, loyalitas, dan
bagimana para pengikut itu meresa menjadi bagian dari sekolah.
3) Kepala Sekolah Yang Transparan Menjunjung Tinggi Prinsip Utama
Transparansi: Mengatakan Semua Kebenaran
Jika kepala sekolah merupakan pemimpin yang transparan ia tidak perlu
khawatir terhadap strategi kepemimpinan atau filosofi yang dianut; terdapat
kebebasan yang luas dan kredibilitas yang lebih tinggi akan diperoleh apabila
orang-orang yang dipimpinnya mengakkui bahwa ia mengelola sekolah secara
terbuka dan jujur. Jika kepala sekolah terbuka, pihak-pihak yang terkait akan
memiliki kepercayaan kepada sekolah dan tujuan jangka panjangnya. Salah satu
yang paling sulit untuk dipelajari oleh seseorang yang baru menjabat kepala
sekolah adalah bahwa pemimpin yang hebat bukan sekedar orang yang
menyenangkan. Pemimpin besar proaktif dan secara konsisten bekerja untuk
melakukan hal-hal yang benar. Ketika kepala sekolah proaktif dalam
melaksanakan hal-hal yang benar, ia tidak sekedar membuat keputusan untuk
menyenangkan orang lain. Kepala sekolah itu terfokus untuk mengatakan
kebenaran yang sesungguhnya, dan oleh karena itu, kepala sekolah tersebut
Kepribadian MKKS Halaman 30
dapat belajar dari orang lain dan tidak disesatkan oleh orang lain yang tidak
melaksanakan segala sesuatu dengan cara yang benar.
Kepala sekolah harus jujur dengan dirinya sendiri dan orang lain mengenai
kemampuannya sebelum dapat memimpin orang lain. Hal ini merupakan proses
pertumbuhan. Apabila kepala sekolah jujur atas kemampuannya maka akan
mudah baginya untuk menentukan jenis budaya yang ingin dikembangkannya di
sekolahnya. Mentransfer filosofi yang dianut oleh kepala sekolah kepada semua
warga sekolah akan memperkokoh budaya tersebut, namun hal pertama yang
harus ada pada diri kepala sekolah adalah dimilikinya landasan yang akan
digunakan sebagai dasar merumuskan visi.
4) Kepala Sekolah Yang Transparan Belajar dari Kegagalan (atau
Keberhasilan) Orang Lain
Kepala sekolah dapat belajar banyak melalui pengamatan terhadap
tindakan-tindakan orang lain saat mereka berjaya—ketika sekolah kuat dan
semua guru mendapatkan kesejahteraan baik. Akan tetapi kepala sekolah juga
dapat belajar lebih banyak dari tindakan orang-orang ketika “kapal” akan
tenggelam, pada saat kondisi sekolah sedang terpuruk, karena saat itulah
karakter asli sabagian besar orang di dalamnya mengemuka. Seperti ketika kita
menekan pasta gigi dari tempatnya. Apa yang ada di dalam akan keluar ketika
kita memberikan tekanan yang cukup. Jika kita memberikan tekanan yang cukup
kepada manusia, kita akan melihat semua yang ada di dalam akan keluar, dan
kadang-kadang memang tidak baik.
Ketika saatnya baik, kita perlu lebih mengerlingkan mata untuk melihat
karakter seseorang. Akan tetapi jika kita melihat dengan sungguh-sungguh dan
mengamati tindakannya sacara konsisten dari waktu ke waktu, kita akan mampu
melihat gambaran yang akurat tentang siapa mereka sebenarnya. Hal ini juga
merupakan proses balajar, dan penting untuk dilakukan. Belajar dari kepala
sekolah lain dapat menghindarkan seorang kepala sekolah untuk membuat
kesalahan yang serius. Akan tetapi, pada akhirnya jika kepala sekolah tersebut
mengikuti sistem nilai yang dianutnya kemudian merumuskan standar, kesalahan
yang dilakukannya seharusnya tidak berpengaruh negatif terhadap dirinya.
Sebagai manusia biasa, setiap kepala sekolah pasti pernah dan akan melakukan
kesalahan—termasuk kita semua—akan tetapi kita tidak ingin merusak reputasi
Kepribadian MKKS Halaman 31
dan karir kita. Jika kepala sekolah memperhatikan dengan seksama, kepala
sekolah dapat belajar dari kepala sekolah lain di sekitarnya.
5) Kepala Sekolah Yang Transparan Bersedia Menjadi Mentor
Apakah Anda pemimpin yang transparan? Harapannya setiap kepala
sekolah selalu memikirkan pertanyaan ini karena ia tidak pernah terlepas dari
perhatian orang-orang yang dipimpinnya, meskipun kadang kala kepala sekolah
itu tidak mengetahuinya. Tidak tertutup kemungkinan bahwa staf administrasi
yang bekerja di sekolah Anda atau guru-guru akan melakukan sesuatu yang
mereka amati dan pelajari dari Anda. Kegiatan mentoring yang Anda lakukan
dapat terjadi secara kebetulan—melalui kontak singkat dengan seseorang, atau
hubungan yang berlangsung bertahun-tahun. Kepemimpinan ditunjukkan dengan
tanggung jawab sebagai mentor yang baik bagi orang lain. Orang-orang yang
saling menghindar, berbohong, dan tidak hormat kepada orang lain dapat
dijadikan pelajaran bahwa integritas harus menjadi sesuatu yang selalu
menyertai kita, dan kejujuran dapat dengan mudah ditempatkan pada tempat
yang salah. Jika kepala sekolah tidak memiliki gaya hidup yang transparan, maka
ia tidak akan pernah dipandang sebagai orang yang memiliki integritas yang
tinggi, meskipun ia dikenal sebagai orang yang berhasil, orang lain akan berkata
hal yang tidak menyenangkan tentang kepala sekolah itu. Pepatah lama yang
mengatakan bahwa “persoalannya bukan pada menang atau kalah akan tetapi
pada bagaimana anda bermain,” merupakan ungkapan yang benar—terutama
pada lingkungan sekolah saat ini.
C. Rangkuman
Jujur, berpandangan ke depan, inspiratif, dan kompeten merupakan
empat karakteristik pemimpin yang paling diinginkan oleh para pengikutnya.
Sebagai pemimpin, Kepala SMP harus memiliki empat kepribadian yang menjadi
landasan dimilikinya kredibilitas. Warga sekolah akan lebih bersedia untuk
berkorban apabila kepala sekolahnya kredibel, kepala sekolah mempraktikkan
apa yang dipidatokan. Kouzes dan Posner mengemukakan dua hukum
kepemimpinan berdasarkan premis ini: “Jika Anda tidak mempercayai si
pembawa pesan, Anda tidak akan memperacayai pesannya” dan “LAAKAAL:
Laksanakan Apa Yang Anda Katakan Akan Anda Laksanakan” Sebagai
Kepribadian MKKS Halaman 32
pemimpin yang transparan, kepala sekolah memiliki lima tugas penting:
menumbuhkan integritas, sebagai pendengar yang baik, mengatakan semua
kebenaran, belajar dari kegagalan (atau keberhasilan) orang lain, dan sebagai
mentor.
D. Refleksi
Buatlah refleksi pribadi terhadap bahan yang telah Anda pelajari dalam Kegiatan
Belajar 3 ini dengan memberi jawaban secara singkat (sekitar 200 kata) terhadap
semua pertanyaan-pertanyaan berikut.
a. Hal-hal baru apakah yang Anda pelajari melalui Kegiatan Belajar 3 ini?
b. Hal-hal apa yang menarik dari bahan yang Anda pelajari dalam kegiatan
belajar 3 ini?
c. Pertanyaan apa yang mengemuka setelah Anda mempelajari bahan dalam
kegiatan belajar ini?
d. Sejauh mana Anda telah melaksanaka setiap hal yang pernah Anda
katakan?
e. Anda telah mempelajari tugas-tugas kepala sekolah yang transparan, tugastugas
manakah yang masih perlu dikembangkan pada diri Anda? Langkah
apa yang akan Anda lakukan dalam rangka pengembangan diri ini?
Kepribadian MKKS Halaman 33
KEGIATAN BELAJAR 4
Bagaimana Kompetensi Emosional Berpengaruh Terhadap
Keefektifan Kepemimpinan Kepala SMP?
A. Pengantar
Pengendalian diri merupakan salah satu kompetensi yang digolongkan
dalam dimensi kepribadian kepala sekolah ditetapkan dalam Permendiknas
nomor 13 tahun 2007. Dalam pandangan psikologi, pengendalian diri dipandang
sebagai bagian dari kompetensi emosional, sebuah penerapan kecerdasan
emosional ditempat kerja (Goleman, 1998). Oleh karena itu, dalam kaitannya
dengan kompetensi pengendalian diri tersebut, melalui Kegiatan Belajar 5 ini
Anda diajak untuk mengkaji secara umum apa kompetensi emosional itu dan
bagaimana perilaku seorang yang memilik kompetensi emosional yang baik
tersebut.
Sebelum Anda mempelajari lebih lanjut kegiatan belajar ini, jawablah
beberapa pertanyaan berikut ini sesuai dengan apa yang Anda ketahui.
1. Pernahkah Anda mendengar kata kecerdasan emosional?
�� Ya �� Tidak
2. Apa yang Anda pahami tentang kecerdasan emosional tersebut?
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
B. Uraian Materi
Goleman (1998), setelah mengkaji model kompetensi terhadap 188
perusahaan mengevaluasi keterampilan kognitif, keterampilan teknikal, dan
kecerdasan emosi, menyimpulkan bahwa, dibanding dua faktor yang lain,
kecerdasan emosi merupakan faktor yang dua kali lebih penting dan lebih
relevan dengan peningkatan jenjang kepemimpinan. Menurut Goleman (1995)
kepemimpinan bukanlah berarti menguasai, melainkan seni meyakinkan orang
Kepribadian MKKS Halaman 34
untuk bekerja keras mencapai tujuan bersama. Selain itu, dalam rangka
memantapkan kerja meyakinkan orang dan karir sebagai pemimpin, barangkali
tidak ada yang lebih penting bagi pemimpin itu selain mengenali perasaannya
yang terdalam mengenai hal-hal yang dikerjakan.
Dengan demikian jelas bahwa secara konseptual kecerdasan emosional
yang diwujudkan dalam kompetensi emosional merupakan faktor yang penting
bagi keefektifan kepemimpinan organisasi dimana otoritas formal tidak lagi efektif
untuk menggerakkan orang lain sebagaimana terjadi pada sekolah. Dalam
organisasi seperti ini pemimpin harus mampu menekan sampai batas minimal,
bahkan meniadakan, kesenjangan herarkhis antara sang pemimpin dengan yang
dipimpin. Dengan tiadanya kesenjangan herarkhis ini maka perasaan sang
pemimpin akan begitu dekat dengan pengikutnya. Sang pemimpin benar-benar
bisa merasakan apa yang dirasakan oleh pengikutnya, dan pada akhirnya setiap
kebijakan dan keputusan yang dibuat tidak akan didominasi oleh apa yang ia
rasakan namun juga akan berdasar apa yang dirasakan oleh pengikutya.
Sejumlah penelitian terakhir mendukung hubungan antara kepemimpinan
dengan kecerdasan emosional tersebut. Penelitian-penelitian ini dilakukan di
berbagai negara di dunia pada organisasi-organisasi yang bergerak di berbagai
sektor yang berbeda-beda, seperti industri konstruksi, kesehatan, dunia usaha,
politik, dan pendidikan. Semua penelitian itu membuktikan bahwa kecerdasan
emosional pemimpin, yang diwujudkan dalam kompetensi emosional di tempat
kerja, berpengaruh terhadap kepemimpinan transformasional (Hadi, 2008).
Untuk memahami lebih jauh tentang kecerdasan emosional, berikut diuraikan
secara singkat pengertian dan dimensi-dimensi dari konsep ini.
1. Pengertian Kompetensi Emosional
Konsep kompetensi emosional (emotional competencies) sangat erat
kaitannya dengan konsep kecerdasan emosional (emotional intelligence).
Kompetensi emosional dikembangkan berdasarkan konsep kecerdasan
emosional (Goleman, 2001., Boyatzis & Sala, 2004; Hunt, 2006). Kecerdasan
emosional merupakan potensi awal yang dimiliki seseorang untuk dapat
mengembangkan kompetensi emosional di tempat kerja (Boyatzis, Goleman, &
McKee, 2002). Menurut Cherniss (2001), kecerdasan emosional memberikan
landasan bagi perkembangan sejumlah besar kompetensi yang membantu
Kepribadian MKKS Halaman 35
seseorang berkinerja lebih efektif. Kecerdasan emosional pada tingkat tertentu
menjadi syarat untuk mengembangkan kompetensi emosional (Gowing dalam
Cherniss, 2000). Kecerdasan emosional dan kompetensi emosional merupakan
dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pembedaan yang cukup tegas antara
kecerdasan emosional dan kompetensi emosional dibuat oleh Offerman, Bailey,
Vasilopoulos, Seal, dan Sass (2004). Mereka menyatakan bahwa kecerdasan
emosional merupakan kecerdasan terstandar yang banyak didukung oleh
pendekatan kemampuan (ability approach), sementara kompetensi emosional
memadukan kemampuan-kemampuan pokok kecerdasan emosional dengan
produk-produk atau manifestasi dari kecerdasan emosional yang merefleksikan
realisasi potensi kecerdasan emosional yang berbasis kemampuan tersebut.
Oleh karena itu setiap pembahasan kompetensi emosional selalu diawali dengan
pembahasan kecerdasan emosional, bahkan beberapa ahli menggunakan
keduanya saling bergantian (misalnya Humpel & Caputi, 2001., Ciarrochi &
Deane, 2001., Ciarrochi, Deane, Wilson, & Rickwood, 2002 dan Morrison, 2005).
Teori kecerdasan emosional pertama kali diperkenalkan pada tahun 1990
oleh Salovey dan Mayer (dalam Goleman, 2001a) dengan merujuk pada
perkembangan terdahulu yang dikenal dengan aspek kecerdasan nonkognitif
(non-cogitive aspect of intelligence) (Cherniss, 2000). Kecerdasan emosional
merupakan salah satu domain kecerdasan dalam kerangka kecerdasan manusia.
Meskipun kecerdasan emosional merupakan domain yang berbeda dengan
kecerdasan kognitif, akan tetapi pada esensinya kecerdasan emosional
merupakan integrasi antara pusat-pusat emosi dalam otak (yang disebut sistem
limbik) dengan pusat-pusat kognitif (korteks prefrontal) (Cherniss, 2001). Gardner
(1999) juga sepaham dengan pandangan bahwa kecerdasan emosional
merupakan salah satu dari kerangka kecerdasan manusia. Dalam teori yang
disebut Multiple Intelligences, Gardner (1999) memasukkan kecerdasan
emosional dalam spektrum kecerdasan personal (personal intelligence) dalam
mana terdapat dua ragam kecerdasan yang disebut kecerdasan interpersonal
(interpersonal intelligence) dan kecerdasan intrapersonal (intrapersonal
intelligence). Goleman (2001a), dalam kerangka teori kecerdasan emosional
yang dikembangkannya, mensetarakan kecerdasan interpersonal versi Gardner
tersebut dengan kesadaran diri dan majemen diri, dan kecerdasan intrapersonal
dengan kesadaran sosial dan manajemen kerjasama.
Kepribadian MKKS Halaman 36
Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang terkait dengan
pengenalan dan pengaturan emosi yang ada dalam dirinya sendiri dan dalam diri
orang lain. Mayer, Salovey, dan Caruso (dalam Cheniss, 2001:3) mengartikan
kecerdasan emosional sebagai “The ability to perceive and express emotion,
assimilate emotion in thought, understand and reason with emotion, and regulate
emotion in the self and others”. Selanjutnya Goleman (2001a:14) memberi
batasan yang lebih ringkas terhadap konsep kecerdasan emosional: “Emotional
intelligence, at the most general level, refers to the abilities to recognize and
regulate emotions in ourselves and in others.” Terkait dengan definisi singkat ini,
Goleman (2001a) mengusulkan empat domain utama kecerdasan emosional:
Kesadaran-Diri (Self-Awareness), Manajemen-Diri (Self-Management),
Kesadaran Sosial (Social Awareness), dan Manajemen Kerjasama (Relationship
Management).
Dalam perkembangan lebih lanjut, konsep kecerdasan emosional banyak
dikaitkan dengan kinerja seseorang di tempat kerja. Perkembangan inilah yang
kemudian mendorong berkembangnya konsep kompetensi emosional (emotional
competencies) yang pertama kali digulirkan oleh Goleman (1998). Boyatzis dan
Sala (2004) menyatakan bahwa bergulirnya konsep kompetensi emosional
seiring dengan digunakannya pendekatan kompetensi (competency approach)
dalam penelitian kecerdasan emosional, sebuah pendekatan penelitian yang
memfokuskan pada penjelasan dan prediksi terhadap keefektifan di berbagai
bidang pekerjaan, terutama yang terkait dengan kinerja manajer dan pemimpin.
Dalam pendekatan kompetensi ini kemampuan-kemampuan khusus diidentifikasi
dan divalidasi berdasarkan keefektifan, atau, sering, diteliti secara induktif dan
diartikulasikan sebagai kompetensi (Boyatzis & Sala, 2004). Selain itu, Boyatzis
dan Sala (2004) juga menyebutkan bahwa kecerdasan emosional merupakan
konstruk yang dapat diidentifikasi sebagai kompetensi karena kecerdasan
emosional sebagai sebuah konsep terintegrasi tidak hanya menawarkan
kerangka yang kuat dalam mendiskripsikan disposisi manusia—namun juga
menawarkan struktur teoritik tentang organisasi kepribadian dan mengkaitkannya
dengan teori tindakan dan kinerja di tempat kerja.
Kompetensi didefinisikan sebagai kemampuan atau kapabilitas (Boyatzis
& Sala, 2004). Kompetensi merupakan serangkaian perilaku yang berbeda-beda
namun saling terkait satu dengan lainnya yang diorganisasikan berdasarkan
Kepribadian MKKS Halaman 37
sebuah konstruk, yang disebut “intent” (Boyatzis & Sala, 2004). Konstruksi
kompetensi semacam itu mencakup tindakan dan intent memerlukan metode
pengukuran yang memungkinkan dilakukannya penilaian terhadap perilaku yang
tampak maupun inferensi terhadap intent.
Dengan memadukan pengertian kompetensi dan kecerdasan emosional
sebagaimana dikemukakan di atas, Goleman (2001b:27), mendefinisikan
kompetensi kecerdasan emosional sebagai “a learned capability based on
emotional intelligence that results in outstanding performance at work”. Dalam
definisi ini, tampak bahwa kompetensi emosional merupakan intent dan kinerja
di tempat kerja dan merupakan serangkaian kemampuan yang terkait
dengannya. Berdasarkan definisi Goleman tersebut, Boyatzis dan Sala (2004:5)
merumuskan definisi yang lebih rinci terkait dengan kompetensi kecerdasan
emosional: “emotional intelligence competency is an ability to recognize,
understand, and use emotional information about oneself or others that leads to
or causes effective or superior performance.” Terkait dengan empat dimensi
kecerdasan emosional di atas, Boyatzis dan Sala (2004) menyatakan bahwa
kecerdasan emosional merupakan serangkaian kompetensi, atau kemampuan,
tentang bagaimana orang: (a) menyadari diri sendiri; (b) mengelola diri sendiri;
(c) menyadari orang lain; dan (d) mengelola relasinya dengan orang lain.
2. Dimensi-Dimensi Kompetensi Emosional
Terdapat 20 kompetensi emosional yang diidentifikasi Goleman (2001).
Sebagai sebuah konstruk yang terbangun berdasarkan konsep kecerdasan
emosional, pengelompokan kompetensi-kompetensi emosional itu tetap
didasarkan pada bangunan kerangka kecerdasan emosional. Goleman (2001b),
yang kemudian dimodifikasi oleh Boyatzis, Goleman, dan McKee (2002),
mengelompokkan kompetensi-kompetensi emosional kedalam empat dimensi
kecerdasan emosional sebagaimana telah dikemukakan di atas: kesadaran diri,
manajemen diri, kesadaran sosial, dan manajemen kerjasama. Dua kompetensi
pertama disebut Kompetensi Personal (Personal Competence) dan dua lainnya
disebut Komptensi Sosial (Social Competence). Selain dari aspek personal dan
sosial, kompetensi-kompetensi tersebut juga dikelompokkan menjadi Rekognisi
yang terdiri dari Kesadaran Diri dan Kesadaran Sosial dan Regulasi yang
meliputi Manajemen Diri dan Manajemen Kerjasama. Kerangka kerja kompetensi
Kepribadian MKKS Halaman 38
emosional tersebut kemudian disajikan sebagaimana Gambar 2.2. Boyatzis,
Goleman, dan McKee (2002) menjelaskan kompetensi-kompetensi tersebut
sebagai berikut.
Diri Sendiri
(Kompetensi Personal)
Orang Lain
(Kompetensi Sosial)
Rekognisi
Kesadaran-Diri
• Kesadaran-diri Emosional
• Asesmen-diri yang akurat
• Kepercayaan-Diri
Kesadaran Sosial
• Empathi
• Orientasi layanan
• Kesadaran organisasi
Regulasi
Manajemen-Diri
• Kendali-diri Emosional
• Bertanggungjawab
Adaptabilitas
• Kehati-hatian
• Mendorong Prestasi
• Inisiatif
Manajemen Kerjasama
• Inspirasi
• Pengaruh
• Mengembangkan orang
lain
• Katalisator perubahan
• Manajemen konflik
• Membangun
kebersamaan
• Kerja kelompok dan
kolaborasi
Gambar 2.2 Kerangka Kerja Kompetensi emosional (Goleman, 2001b)
a. Keasadaran Diri
Tiga kompetensi yang termasuk dalam dimensi ini meliputi kesadaran-diri
emosional (emotional self-awareness), asesmen-diri yang akurat (accurate selfassessment),
dan kepercayaan diri (self-confidence). Individu yang memiliki
kompetensi Kesadaran-Diri Emosional dapat mendengarkan tanda-tanda di
dalam dirinya sendiri, mengenali bagaimana perasaannya mempengaruhi diri
Kepribadian MKKS Halaman 39
dan kinerjanya. Individu itu bersedia mendengarkan dan menyelaraskan diri
dengan nilai-nilai yang membimbingnya dan seringkali secara naluriah dapat
menentukan tindakan yang terbaik, melihat gambaran besar dalam situasi yang
rumit. Orang yang sadar-diri emosional dapat bersikap tegas dan otentik, mampu
berbicara terbuka tentang emosinya atau berbicara dengan keyakinan yang kuat
terhadap visi yang membimbingnya.
Kompetensi asesmen-diri yang tepat memampukan dengan mengetahui
keterbatasan dan kekuatannya, dan menunjukkan citarasa humor mengenai
dirinya sendiri. Ia menunjukkan pembelajaran yang cerdas tentang apa yang
mereka pandang memerlukan perbaikan serta menerima kritik dan balikan yang
membangun. Penilaian diri yang akurat memampukan seseorang mengetahui
kapan harus meminta bantuan dan dimana ia harus memfokuskan dirinya pada
usaha pengembangan kekuatan yang baru.
Pengetahuan yang tepat terhadap kemampuan diri sendiri akan
memampukan seseorang untuk bermain-main dengan kekuatannya itu. Individu
yang percaya diri mampu menerima tugas yang sulit. Individu semacam ini sering
kali memiliki kepekaan terthadap keberadaannya, suatu keyakinan diri yang
membuatnya menonjol ketika berada dalam kelompok.
b. Manajemen Diri
Kompetensi-kompetensi yang termasuk dalam dimensi ini meliputi
kendali-diri emosional (emotional self-control), dapat dipercaya (trustworthiness),
adaptabilitas (adaptability), inisiatif, mendorong prestasi (achievemen drive), dan
kehati-hatian atau conscientiousness. Ciri-ciri dari individu yang memiliki
kompetensi-kompetensi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
Seseorang yang memiliki kendali-diri emosional dapat menemukan caracara
mengelola perasaannya yang sedang terganggu oleh pihak lain atau atas
dorongan-dorongan dirinya sendiri, dan bahkan dapat menyalurkannya kedalam
cara-cara yang bermanfaat. Ciri individu yang memiliki kompetensi kendali-diri
emosional yang baik adalah orang yang tetap tenang dan berfikiran jernih ketika
berada dalam tekanan tinggi atau ketika berada dalam suasana krisis—atau
seseorang yang tidak goyah meskipun berhadapan dengan situasi yang
menantang ketahanannya.
Kepribadian MKKS Halaman 40
Seseorang yang dapat dipercaya mempertahankan nilai-nilai yang
diyakininya. Istilah lain dari kompetensi ini adalah transparansi, suatu
keterbukaan yang sungguh-sungguh kepada orang lain mengenai perasaan,
keyakinan, dan tindakan seseorang, yang memampukan seseorang untuk
memiliki integritas. Orang semacam ini mengakui secara terbuka keslahan yang
diperbuat, menentang perilaku yang tidak etis kepada orang lain, dan tidak
berpura-pura tidak tahu.
Adaptabilitas merupakan kompetensi yang memampukan seseorang
dapat menyesuaikan diri, dapat menghadapi berbagai tuntutan tanpa kehilangan
fokus atau energi, dan tetap nyaman berada pada situasi-situasi yang tidak
menentu yang sering tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan organisasi. Orang
itu luwes dalam menyesuaikan dirinya dengan tantangan baru, cekatan dalam
menyesuaian dengan perubahan yang berlangsung cepat, dan berfikiran gesit
ketika menghadapi realitas baru.
Mandorong prestasi membuat seseorang memiliki standar pribadi yang
tinggi yang mendorongnya untuk terus melakukan perbaikan kinerja—baik bagi
dirinya sendiri, maupun orang lain, terutama ketika ia sedang memimpin. Orang
dengan kompetensi ini bersikap pragmatis, menetapkan tujuan-tujuan yang
terukur namun tetap menantang, dan mampu memperhitungkan resiko sehingga
tujuan-tujuan yang dicita-citakan layak untuk dicapai. Ciri utama kompetensi ini
adalah kesediaan untuk terus belajar—dan membelajarkan—berbagai cara untuk
melakukan segala sesuatu dengan lebih baik.
Seseorang yang memililki kepekaan akan keberhasilan—bahwa ia
memiliki apa yang dibutuhkan untuk menentukan nasibnya sendiri—memiliki
keunggulan dalam inisiatif. Ia mampu menangkap kesempatan—atau
menciptakannya—dan bukan hanya menunggu. Individu semacam ini tidak ragu
menghadapi rintangan, bahkan jika terpaksa harus menyimpang dari aturan, jika
memang diperlukan untuk menciptakan peluang yang lebih baik bagi masa
depan.
Optimisme merupakan kompetensi terakhir dari dimensi Manajemen Diri.
Seseorang yang optimistis dapat tetap bertahan ketika berada di tengah-tengah
kepungan dan mampu melihat kesempatan, bukan ancaman. Dalam suasana
yang sulit. Orang semacam ini melihat orang lain secara positif dan
mengharapkan yang terbaik dari mereka. Pandangan orang semacam itu penuh
Kepribadian MKKS Halaman 41
dengan harapan bahwa perubahan di masa depan adalah demi sesuatu yang
lebih baik.
c. Kesadaran Sosial
Dimensi kesadaran sosial tersusun oleh empati, kesadaran organisasi
(organizational awareness), dan orientasi layanan (service orientation). Individu
yang berempati mampu mendengarkan berbagai tanda emosi, membiarkan diri
merasakan emosi yang dirasakan oleh seseorang atau sekelompok orang
meskipun tidak dikatakan. Orang ini mendengarkan dengan cermat dan dapat
menangkap cara pandang orang lain. Empati membuatnya dapat bekerja sama
dengan baik dengan orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang
atau budaya.
Kesadaran berorganisasi yang tinggi dapat membuat seseorang cerdas
secara politis, mampu mendeteksi jaringan kerja sosial yang penting dan
membaca hubungan kerjasama yang penting. Orang ini dapat memahami
kekuatan politik yang sedang berkembang di dalam organisasi, juga nilai-nilai
yang membimbing jalannya organisasi, dan aturan-aturan nonverbal yang
berlaku dikalangan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Pemimpin yang memiliki kompetensi pelayanan yang tinggi
menumbuhkan iklim emosi yang membuat orang-orang yang berada pada posisi
berhubungan langsung dengan pelanggan atau klien, akan menjaga hubungan
dengan cara yang benar. Pemimpin seperti ini memantau kepuasan pelanggan
dengan teliti untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan apa yang mereka
butuhkan. Pemimpin itu juga membuka dan menyediakan diri ketika diperlukan.
d. Manajemen Kerjasama
Lima kompetensi yang merupakan jabaran dari dimensi ini meliputi
inspirasi (inspiring) , pengaruh (influence), mengembangkan orang lain
(developing others), katalisator perubahan (calalizing change), manajemen
konflik (conflict management), kerja kelompok dan kolaborasi (teamwork and
collaboration). Pemimpin yang menginspirasi akan menciptakan resonansi serta
menggerakkan orang dengan visi yang menyemangati atau misi bersama.
Pemimpin seperti ini menjalankan sendiri apa yang dimintanya dari orang lain
dan mampu mengartikulasikan suatu misi bersama dengan cara yang
Kepribadian MKKS Halaman 42
membangkitkan inspirasi orang untuk mengikutinya. Mereka menawarkan
perasaan tujuan di balik tugas sehari-hari dan membuat pekerjaan menjadi
lebih menggembirakan.
Tanda kekuatan pengaruh pemimpin berkisar pada kecerdasannya dalam
menemukan daya tarik yang tepat bagi pendengar tertentu sampai mengetahui
cara mendapatkan persetujuan dari orang-orang penting dan membangun
jaringan pendukung atas inisiatif yang dibuatnya. Pemimpin yang mahir
mempengaruhi memiliki kemampuan membujuk dan melibatkan orang lain ketika
berhadapan dengan kelompol.
Kompetensi mengembangkan orang lain membuat seseorang mahir
menunjukkan minat yang tulus kepada pihak yang dibantunya, memahami
tujuan, kekuatan serta kelemahan mereka. Orang semacam ini dapat
memberikan umpanbalik yang membangun pada waktu yang tepat, dan
merupakan mentor atau pembimbing yang alami.
Pemimpin dengan kompetensi menjadi katalisator perubahan mampu
mengenali kebutuhan akan perubahan, menantang status quo, dan
memperjuangkan aturan baru. Mereka dapat menjadi penasihat yang kuat
terhadap perubahan bahkan di hadapan oposisi sekalipun, dan mampu
membuat argumentasi yang mampu menumbuhkan semangat. Mereka juga
menemukan cara-cara yang praktis untuk mengatasi hambatan perubahan.
Pengelolaan konflik merupakan kompetensi yang membuat seorang
mampu menggalang berbagai pihak, memahami sudut pandang yang berbeda,
dan kemudian menemukan cita-cita bersama yang dapat disepakati oleh setiap
orang. Mereka mengangkat konflik ke permukaan, mengakui perasaan dan
pandangan dari semua pihak, dan kemudian mengarahkan energi ke arah citacita
bersama.
Pemimpin yang mampu bekerja dalam tim akan menumbuhkan suasana
kekerabatan yang ramah dan mereka sendiri mencontohkan penghargaan, sikap
bersedia membantu, dan kerjasama. Mereka menarik orang-orang ke dalam
komitmen yang aktif dan antusias bagi usaha bersama, dan membangun
semangat serta identitas. Mereka meluangkan waktu untuk menumbuhkan dan
mempererat kerjasama yang akrab, lebih dari sekadar tuntutan dan kewajiban
pekerjaan.
Kepribadian MKKS Halaman 43
C. Rangkuman
Emotional Competencies atau kompetensi emosional merupakan
kemampuan khusus agar seseorang terampil memanfaatkan kecerdasan
emosinya dalam perilaku kepemimpinannya. Sebagai penyokong kepemimpinan
yang efektif, kompetensi ini dikelompokkan menurut empat dimensi: kesadaran
diri (self awareness), manajemen diri (self management), kesadaran sosial
(social awareness), dan keterampilan sosial (social skills). Kesadaran Diri
adalah kemampuan yang mencakup kesadaran emosional diri sendiri, penilaian
diri secara akurat, dan rasa percaya diri. Manajemen Diri meliputi adaptibilitas,
pengendalian emosi diri, inisiatif, orientasi kepada prestasi, dapat dipercaya, dan
optimisme. Kesadaran Sosial mencakup empati, orientasi melayani, dan
kesadaran organisasional. Manajemen Kerjasama terdiri dari kepemimpinan
inspirasional, pengembangan orang lain, katasilator perubahan, manajemen
konflik, kerja tim dan kolaborasi.
D. Refleksi
Buatlah refleksi pribadi terhadap bahan yang telah Anda pelajari dalam Kegiatan
Belajar 4 ini dengan memberi jawaban secara singkat (sekitar 200 kata) terhadap
semua pertanyaan-pertanyaan berikut.
1. Hal-hal apa yang menarik dari bahan yang Anda pelajari dalam kegiatan
belajar ini?
2. Pertanyaan apa yang mengemuka setelah Anda mempelajari bahan dalam
kegiatan belajar ini?
3. Adakah keterkaitan antara apa yang Anda pelajari dengan pengalaman dan
pengetahuan yang dimiliki sebelumnya?
4. Dapatkah apa yang Anda pelajari tersebut diterapkan di tempat Anda
bertugas?
5. Pada aspek manakah dari bahan belajar tersebut yang Anda merasa perlu
mengembangkan lebih lanjut?
Kepribadian MKKS Halaman 44
KEGIATAN BELAJAR 5
Bagaimana Mengembangkan Diri Sebagai Pemimpin
Pendidikan?
A. Pengantar
Setelah Anda belajar beberapa kepribadian yang berlaku untuk
kepemimpinan secara umum, kini saatnya Anda lebih fokus pada kepemimpinan
khusus di bidang pendidikan. Pada Kegiatan Belajar 5 ini, Anda diajak untuk
meningkatkan pemahaman tentang peran Anda sebagai pemimpin pendidikan.
Selain itu, Anda juga akan diajak untuk mentelaah karakteristik sekolah efektif
sebagai hasil kinerja dari kepemimpinan pendidikan. Sebelum mengkaji materi
lebih lanjut Anda diharap untuk melakukan refleksi awal dengan merenungkan
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut.
1. Menurut pendapat Anda, apakah yang membedakan antara pemimpin
pendidikan dengan pemimpin lainnya?
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
2. Setujukah Anda jika ada orang yang mengatakan bahwa ”tidak ada sekolah
yang baik dipimpin oleh kepala sekolah yang tidak baik”? Berikan alasan atas
pendapat Anda!
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
3. Menurut pengalaman Anda, apakah kriteria sekolah yang efektif?
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
Kepribadian MKKS Halaman 45
4. Berdasar pengalaman Anda, langkah efektif apa yang pernah Anda lakukan
untuk mengembangkan profesionalisme sebagai pemimpin pendidikan?
B. Uraian Materi
Sejalan dengan tuntutan masyarakat terhadap mutu pendidikan di Indonesia,
belakangan ini banyak muncul ide persekolahan modern dengan berbagai nama,
seperti: Sekolah Unggul, Sekolah Terpadu, Sekolah Percontohan, Sekolah
Bertaraf Internasional, dan seterusnya. Di beberapa negara maju gerakan ini
dinamakan dengan ide Sekolah Efektif. Ciri utama sekolah efektif, berdasarkan
berbagai riset meliputi: (a) kepemimpinan instruksional yang kuat; (b) harapan
yang tinggi terhadap prestasi siswa; (c) adanya lingkungan belajar yang tertib
dan nyaman; (d) menekankan kepada keterampilan dasar; (e) pemantauan
secara kontinyu terhadap kemajuan siswa; dan (f) terumuskan tujuan sekolah
secara jelas (Davis & Thomas, 1989: 12).
Untuk mewujudkan sekolah efektif hanya mungkin didukung oleh kepala
sekolah sebagai pemimpin pendidikan yang efektif. Fred M. Hechinger (dalam
Davis & Thomas, 1989:17) pernah menyatakan:
“Saya tidak pernah melihat sekolah yang bagus dipimpin oleh kepala
sekolah yang buruk dan sekolah buruk dipimpin oleh kepala sekolah yang
buruk. Saya juga menemukan sekolah yang gagal berubah menjadi sukses,
sebaliknya sekolah yang sukses tiba-tiba menurun kualitasnya. Naik atau
turunnya kualitas sekolah sangat tergantung kepada kualitas kepala
sekolahnya”.
Pandangan tersebut menganjurkan kepada para kepala sekolah untuk
memahami tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin pendidikan secara
cermat.
Telah menjadi harapan masyarakat bahwa kepala sekolah sebagai
pemimpin pendidikan selayaknya mampu memimpin dirinya sendiri dan
mempunyai kelebihan dibandingkan dengan yang lainnya. Untuk meningkatkan
kualitas diri, banyak upaya yang dapat ditempuh. Adair (1984) menawarkan ada
lima hal yang dapat dilakukan, yaitu: (1) mengenal diri sendiri dengan Strength,
Weaknesess, Opportunities, Threats (SWOT), (2) berusaha memiliki Kredibilitas,
Akseptabilitas, Moralitas, dan Integritas (KAMI), (3) mempelajari prinsip-prinsip
kepemimpinan, (4) menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan, dan (5) belajar
dari umpan balik. Jadi, punya ilmu harus dipraktikkan seperti nasehat Confius,
Kepribadian MKKS Halaman 46
seorang filosof kuno yang menyatakan, ”Inti pengetahuan ialah mempunyai dan
menggunakannya.”
Secara obyektif, kehidupan sekolah akan selalu mengalami perubahan
sejalan dengan dinamika pembangunan. Kepala sekolah sebagai pemimpin
pendidikan harus berupaya mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya
dalam mengelola perubahan yang terjadi di sekolah. Melihat posisinya sebagai
top leader, kepala sekolah efektif akan menjadi penentu keberhasilan atau
kegagalan reformasi pendidikan pada tingkat sekolah.
Dengan melakukan studi terhadap kepemimpinan sekolah efektif kita dapat
menggali informasi tentang nilai-nilai efektifitas yang harus dipelihara di sekolah.
Sergiovanni (1987) menjelaskan kriteria sekolah efektif ke dalam hal-hal berikut:
1. Skor tes ujian akhir meningkat
2. Kehadiran (guru, siswa, staf) meningkat
3. Meningkatnya jumlah PR
4. Meningkatnya waktu untuk penyampaian mata pelajaran
5. Adanya partisipasi masyarakat dan orang tua
6. Partisipasi siswa dalam ekstra kurikuler
7. Penghargaan bagi siswa dan guru
8. Kualitas dukungan layanan bagi siswa dengan kebutuhan khusus
Demikianlah, kriteria efektifitas sekolah tersebut akan berkembang sesuai
dengan muatan nilai-nilai lokal sekolah, di samping mengikuti standar kinerja
pada umumnya.
1. Konsep Dasar Pemimpin Pendidikan
Mengingat tugas kepemimpinan yang kompleks, pengertian kepemimpinan
tidak dapat dibatasi secara pasti, termasuk pengertian kepemimpinan efektif di
sekolah. Namun, sejumlah rujukan menjelaskan bahwa kepemimpinan efektif di
sekolah dapat berkait dengan kepemimpinan kepala sekolah di sekolah yang
efektif. Atas dasar pandangan ini, maka kepemimpinan efektif di sekolah dapat
dipahami sebagai bentuk kepemimpinan yang menekankan kepada pencapaian
prestasi akademik dan non akademik sekolah. Dengan demikian, pemimpin
pendidikan efektif selalu berkonsentrasi untuk menggerakkan faktor-faktor
Kepribadian MKKS Halaman 47
potensial bagi ketercapaian tujuan sekolah.
Sebagai pemimpin pendidikan pula, kepala sekolah efektif mampu
menunjukkan kemampuannya mengembangkan potensi-potensi sekolah, guru,
dan siswa untuk mencapai prestasi maksimal. Seperangkat faktor pengaruh
prestasi dapat digambarkan oleh model berikut:
Georgia will lead the nation in improving student achievement. GPS 3
Leadership
Leadership
Leadership
Leadership
Factors Influencing Achievement
1. Guaranteed and Viable Curriculum
2. Challenging Goals and Effective Feedback
3. Parent and Community Involvement
4. Safe and Orderly Environment
5. Collegiality and Professionalism
6. Instructional Strategies
7. Classroom Management
8. Classroom Curriculum Design
9. Home Environment
10. Learning Intelligence/ Background Knowledge
11 Motivation
School
Teacher
Student
Gambar 2.1. Faktor Pengaruh Prestasi (Sumber : Model Green Field
1987)
Merujuk kepada model tersebut, dapat digambarkan bahwa seorang kepala
sekolah efektif sebagai pemimpin pendidikan selayaknya harus mampu
meningkatkan prestasi sekolah dengan menunjukkan kemampuannya dalam
mengelola sekolah, guru, dan siswa sebagai komponen utama untuk mencapai
tujuan sekolah. Pengelolan yang terkait dengan komponen sekolah dapat
meliputi: (a) kurikulum praktis dan mantap; (b) tujuan yang menantang dan
balikan yang efektif; (c) partisipasi orang tua dan masyarakat; (d) lingkungan
yang tertib dan nyaman; dan (e) kolegialitas dan profesionalisme.
Sementara, pengelolan yang terkait dengan komponen guru dapat
mencakup: (a) strategi instruksional; (b) manajemen kelas; dan (c) desain
kurikulum. Adapun pengelolaan yang terakit dengan siswa mencakup: (a)
Kepribadian MKKS Halaman 48
lingkungan rumah; (b) kecerdasan belajar; dan (c) motivasi. Ketiga komponen
tersebut bersifat interrelatif, oleh karenanya harus dikelola secara sinergis
dengan mendasarkan kepada prinsip-prinsip koordinasi, sinkronisasi, dan
integrasi.
Dari berbagai pandangan di atas, dapat ditegaskan bahwa kepemimpinan
efektif adalah kepemimpinan kepala sekolah yang memfokus kepada
pengembangan instruksional, organisasional, staf, layanan murid, serta
hubungan dan komunikasi dengan masyarakat. Sajian materi ini akan
mendeskripsikan kepemimpinan efektif kepala sekolah, ditinjau dari aktifitasnya
dalam berkomunikasi, membangun teamwork, mengambil keputusan, menangani
konflik, dan memelihara budaya kerja di sekolah.
2. Ciri-ciri Kepala SMP Yang Efektif
Kepala sekolah efektif harus mengetahui (a) mengapa pendidikan yang baik
diperlukan di sekolah, (b) apa yang diperlukan untuk meningkatkan mutu
sekolah, dan (c) bagaimana mengelola sekolah untuk mencapai prestasi terbaik.
Kemampuan untuk menguasai jawaban atas ketiga pertanyaan ini akan dapat
dijadikan standar kelayakan apakah seseorang dapat menjadi kepala sekola
efektif atau tidak.
Secara umum, ciri dan perilaku kepala sekolah efektif dapat dilihat dari tiga
hal pokok, yaitu: (a) kemampuannya berpegang kepada citra atau visi lembaga
dalam menjalankan tugas; (b) menjadikan visi sekolah sebagai pedoman dalam
mengelola dan memimpin sekolah; dan (c) memfokuskan aktifitasnya kepada
pembelajaran dan kinerja guru di kelas (Greenfield, 1987; Manasse, 1985).
Adapun secara lebih detil, deskripsi tentang kualitas dan perilaku kepala sekolah
efektif dapat diambil dari pengalaman riset di sekolah-sekolah unggul dan sukses
di negara maju.
Atas dasar hasil riset tersebut, dapat dijelaskan ciri-ciri sebagai berikut:
• Kepala sekolah efektif memiliki visi yang kuat tentang masa depan
sekolahnya, dan ia mendorong semua staf untuk mewujudkan visi
tersebut
• Kepala sekolah efektif memiliki harapan tinggi terhadap prestasi siswa
dan kinerja staf
Kepribadian MKKS Halaman 49
• Kepala sekolah efektif tekun mengamati para guru di kelas dan
memberikan balik yang positif dan konstruktif dalam rangka memecahkan
masalah dan memperbaiki pembelajaran
• Kepala sekolah efektif mendorong pemanfaatan waktu secara efisien dan
merancang langkah-langkah untuk meminimalisasi kekacauan
• Kepala sekolah efektif mampu memanfaatkan sumber-sumber material
dan personil secara kreatif
• Kepala sekolah efektif memantau prestasi siswa secara individual dan
kolektif dan memanfaatkan informasi untuk mengarahkan perencanaan
instruksional.
Di sisi lain, kepala sekolah yang tidak efektif biasanya:
• Membatasi perannya sebagai manajer sekolah dan anggaran;
• Menjaga dokumen, sangat disiplin;
• Berkomunikasi dengan setiap orang sehingga memboroskan waktu dan
tenaga;
• Membiarkan guru mengajar di kelas
• Memanfaatkan waktu hanya sedikit untuk urusan kurikulum dan
pembelajaran (Martin & Millower, 1981; Willower & Kmetz, 1982).
Kenyataan menunjukkan sedikit sekali kepala sekolah dipersiapkan sebagai
pemimpin instruksional (Goodlad, 1983).
3. Indikator Kinerja Kepala SMP Yang Efektif
Berdasarkan langkah-langkah reformatif dan analisis obyektif, maka dapat
dikemukakan indikator-indikator kinerja kepala sekolah efektif di era global
sebagai berikut:
a. Mewujudkan proses pembelajaran yang efektif
b. Menerapkan system evaluasi yang efektif dan melakukan perbaikan secara
berkelanjutan
c. Melakukan refleksi diri ke arah pembentukan karakter kepemimpinan sekolah
yang kuat
d. Melaksanakan pengembangan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi
Kepribadian MKKS Halaman 50
e. Menumbuhkan sikap responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan semua
stakeholders sekolah
f. Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib (Safe and Orderly);
g. Menumbuhkan budaya mutu di lingkungan sekolah
h. Menumbuhkan harapan prestasi tinggi
i. Menumbuhkan kemauan untuk berubah
j. Melaksanakan Keterbukaan/Transparan Managemen Sekolah
k. Menetapkan secara jelas Visi dan Misi
l. Melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif
m. Melaksanakan pengelolaan sumber belajar secara efektif
n. Melaksanakan pengelolaan kegiatan kesiswaan/Ekstrakurikuler secara efektif
o. Mengembangkan kepemimpinan instruksional.
4. Pengembangan Diri Kepala SMP Yang Efektif
Setiap kepala sekolah merupakan sosok yang unik dan sedang menyisir
jalan kepemimpinan yang unik pula. Tidak ada seorang pun yang dapat
mengajarkan kemana ia harus pergi: sang kepala sekolah itu sendiri yang harus
menemukannya jalan tersebut. Andaikata jalan yang akan dilalui merupakan
jalan yang mudah, akan lebih banyak orang yang menduduki jabatan kepala
sekolah yang mampu menunjukkan keterampilan kepemimpinan sebagaimana
diuraikan berikut ini dari pada kondisi yang sebenarnya.
Semua yang diuraikan berikut ini merupakan saran-saran dan refleksi
praktis yang mungkin dapat bermanfaatn bagi Anda. Harapannya, Anda akan
tergugah dan mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan diri. Tiga tahapan
penting yang harus Anda lakukan untuk mengembangkan diri sebagai pemimpin:
bersiap, proaktif, dan reflektif.
a. Bersiaplah
Pintu menuju kepemimpinan memiliki ‘Keyakinan’ yang tertulis diatasnya.
Anda ingin menjadi pemimpin yang efektif. Hal itu bermula dari keinginan untuk
mengambil tanggung jawab tersebut. Jika Anda tidak menyukai gagasan untuk
mengemban tanggung jawab pada tiga siklus tersebut, maka kepemimpinan
bukan milik Anda. Tetaplah menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Tuhan
tidak akan mengubah nasib Anda, kecuali Anda sendiri yang mengubahnya.
Kepribadian MKKS Halaman 51
Andai kata Anda telah memiliki persyaratan dasar berupa kemauan untuk
mengambil tanggung jawab tersebut, jangan pernah menghapus catatan bahwa
Anda adalah pemimpin yang potensial. Menempatkan diri pada bidang yang
tepat kemudian menunggu situasi yang tepat masih merupakan pertanyaan yang
besar. Akan tetapi, pepatah yang mengatakan ‘keberuntungan berpihak pada
pikiran yang siap.’ Semakin tinggi kesiapan Anda, semakin tinggi pula keyakinan
yang Anda miliki. Ingatlah, sebagai pemimpin Anda harus tampak yakin,
meskipun dalam diri Anda tidak demikian. Orang akan melihat Anda dari yang
tampak.
b. Bersikaplah proaktif
Sekolah sangat membutuhkan pengembangan diri Anda sebagai
pemimpin, karena sekolah memerlukan pemimpin. Berbagi harapan, niatan, dan
keinginan dengan sekolah merupakan kebutuhan yang tidak dapat Anda
hindarkan. Anda harus memanfaatkan semua peluang untuk memimpin, jadilah
pemimpin kelompok. Pengalaman merupakan perpaduan antara keberhasilan
dan kegagalan. Tanpa keduanya, Anda akan sulit untuk tumbuh sebagai
pemimpin.
Terkait dengan kesempatan yang diberikan oleh sekolah kepada Anda
untuk bertampuk sebagai pemimpin, ada kalanya pihak yang sekolah juga
menawarkan kepada Anda berbagai kegiatan pengembangan diri Anda sebagai
pemimpian. Terimalah setiap tawaran semacam itu dengan kedua tangan Anda.
Melalui pelatihan Anda akan mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan
keterampilan dan menerima balikan yang bermanfaat. Dalam setiap kesempatan
pengembangan Anda hendaknya tetap bersikap kritis konstruktif karena tidak
setiap hal yang Anda peroleh malalui pelatihan atau Anda baca dari buku
merupakan hal yang benar dan dapat dipraktikkan. Namun demikian, semua
tawaran itu merupakan peluang kunci bagi pertumbuhan dan pembelajaran
Anda. Ambilah setiap kesempatan yang ada.
c. Berfikirlah Secara Reflektif
Sebagian besar pemimpin dilingkupi oleh tindakan dan tenggelam dalam
pekerjaannya, karena umumnya mereka cenderung mencintai pekerjaan. Anda
Kepribadian MKKS Halaman 52
sangat membutuhkan kemampuan untuk menarik diri dari kesibukan itu dan
melihat dari luar tentang apa yang sedang terjadi secara keseluruhan. Saat-saat
berefleksi semacam itu harus disediakan ketika seseorang menjalankan peran
sebagai pemimpin. Catatlah sejumlah hal yang telah berjalan baik dan
identifikasikan bidang-bidang khusus yang memerlukan pengembangan diri.
Proses ini merupakan hal yang alamiah dalam berbagai aspek kehidupan kita—
sebagai suami, istri, misalnya—akan tetapi Anda perlu memperbaharuinya
menjadi metode belajar secara mandiri. Hal itu akan membantu Anda untuk
memahami pokok-pokok tindakan yang perlu dilaksanakan untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan Anda sebagai pemimpin.
Menggunakan balikan informal atau tidak terstruktur merupakan cara
yang penting untuk pengembangan diri. Orang lain dapat berperan sebagai kaca
cermin atau ‘reflektor sosial’ yang memantulkan kembali cahaya kepada kita
tentang bagaimana kita berperilaku. Namun demikian, ada kalanya mereka
bukan reseptor atau cermin yang sempurna, karena mereka tidak hanya
mengamati Anda akan tetapi juga melakukan penafsiran terhadap apa yang
mereka lihat sebelum memberikan balikan—diminta atau tidak diminta. Dengan
demikian, Anda benar-benar harus hati-hati dalam menggunakan balikan. Anda
harus mengkaji lebih dahulu balikan itu. Perlu diingat bahwa Anda hanya
menerima kesan orang lain, bukan pernyataan psikologis yang sebenarnya
tentang apa yang ada dalam diri Anda. Anda harus selalu mencari pola.
Balikan seperti halnya sebuah mekanisme pengarah pada peluncur roket.
Jika Anda menerimanya dengan pikirn terbuka, menelusuri kebenaran yang ada
di dalamnya, maka balikan dapat membimbing Anda berada pada jalur menuju
keunggulan sebagai pemimpin. Jangan takut gagal. Jalan ke depan akan
tertaburi oleh prestasi yang bermula dari kegagalan Anda sebagai pemimpin.
Satu-satunya cara agar Anda dapat berubah dari pemimpin yang baik—di mana
Anda sekarang berada—untuk menjadi pemimpin yang sangat baik, bahkan
pemimpin yang unggul atau pemimpin yang hebat, adalah melalui cita-cita yang
lebih tinggi. Jangan pernah menyerah, pada akhirnya orang-rang tersebut akan
mengakui bahwa Anda merupakan pemimpin yang berbakat.
Terdapat tiga cara praktis untuk meningkatkan kepemimpinan Anda: (1)
mengembangkan keyakinan dengan menggunakan kerangka yang telah teruji,
(2) memanfaatkan peluang-peluang yang ada di sekolah sebagai sarana
Kepribadian MKKS Halaman 53
pengembangan kepemimpinan, dan (4) memanfaatkan dengan bijak semua
balikan yang berasal dari berbagai sumber—atasan, sejawat, anggota kelompok,
teman dan keluarga. Anda pasti dapat memikirkan cara-cara yang lain. Akan
tetapi semuanya memerlukan waktu, karena tidak ada hal yang isntan dalam
kepemimpinan. Oleh karena itu, Anda harus bersabar. Tetaplah maju selangkah
demi selangkah setiap hari. Lakukan hal yang berbeda esok hari melalui
membaca buku dan menggunakan balikan. Semua itu sebenarnya hanya
sekedar saran, yang paling penting adalah Anda harus berkembang dengan cara
Anda sendiri. Yang terpenting adalah sebagai pemimpin: lihatlah ke depan, gigih
mencapai tujuan, dari baik menjadi lebih baik, dan jadilah orang yang tak
tertandingi setiap hari.
C. Rangkuman
Ciri utama sekolah efektif, berdasarkan berbagai riset meliputi: (a)
kepemimpinan instruksional yang kuat; (b) harapan yang tinggi terhadap prestasi
siswa; (c) adanya lingkungan belajar yang tertib dan nyaman; (d) menekankan
kepada keterampilan dasar; (e) pemantauan secara kontinyu terhadap kemajuan
siswa; dan (f) terumuskannya tujuan sekolah secara jelas. Ciri-ciri sekolah yang
efektif ini dapat dicapai melalui kepemimpinan pendidikan yang efektif,
kepemimpinan yang (a) kemampuannya berpegang kepada citra atau visi
lembaga dalam menjalankan tugas; (b) menjadikan visi sekolah sebagai
pedoman dalam mengelola dan memimpin sekolah; dan (c) memfokuskan
aktifitasnya kepada pembelajaran dan kinerja guru di kelas. Tiga langkah pokok
yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan profesionalisme sebagai kepala
sekolah yang efektif: bersiaplah, bersikaplah proaktif, dan lakukan refleksi!
D. Refleksi
Setelah mempelajari bahan belajar ini, lakukan refleksi diri dengan
menjawab sejumlah pertanyaan berikut ini.
Kepribadian MKKS Halaman 54
1. Jika dilihat dari sejumlah kriteria sekolah efektif yang diuraikan dalam
kegiatan belajar ini, seberapa efektifkah sekolah yang Anda pimpin
sekarang?
2. Sebagai seorang pemimpin sekolah, apakah Anda dapat disebut sebagai
pemimpin pendidikan yang efektif?
3. Hal-hal apa yang menarik dari bahan yang Anda pelajari dalam kegiatan
belajar ini?
4. Pertanyaan apa yang mengemuka setelah Anda mempelajari bahan dalam
kegiatan belajar ini?
5. Dapatkah apa yang Anda pelajari tersebut diterapkan di masa depan di
tempat Anda bertugas?
6. Pada aspek manakah dari bahan belajar tersebut yang Anda merasa perlu
mengembangkan lebih lanjut?
Kepribadian MKKS Halaman 55
DAFTAR RUJUKAN
Adair, J. 2007. Develop Your Leadership Skills. Philadelphia: Kogan Page
Bass, B.M & Riggio, R.E. 2006. Transformational Leadership. 2nd Ed. New
Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.
Baum, H. & Klink, T. 2004. Transparent Leader. New York: HarperCollins
Publishers Ltd.
Boyatzis, R., Goleman, D., & Mckee, A. 2002. Primal Leadership: Kepemimpinan
Berdasarkan Kecerdasan Emosi. Terjemahan oleh Susi Purwoko. 2004.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Boyatzis, R.E. and Oosten, E.V. 2002. Developing Emotionally Intelligent
Organizations. Consortium for Research on Emotional Intelligence in
Organizations, (Online), (www.eiconsortium.org diakses 22 Oktober 2003)
Cherniss, C. 2001. Emotional Intelligence and Organizational Effectiveness.
Dalam Cary Cherniss & Daniel Goleman (Eds.), The Emotionally
Intelligent Workplace (hlm. 3-12). San Francisco: Jossey-Bass.
Davis, Gary A. & Thomas, Margaret A. 1989. Effective Schools and Effective
Teachers. Massachusetts: Ally and Bacon.
Gardner, H. 1999. Intelligence reframed. New York: Basic Books.
Goleman, D. (2001a). Emotional Intelligence: Issues in Paradigm Building. Dalam
Cary Cherniss & Daniel Goleman (Eds.) The Emotionally Intelligent
Workplace (hlm. 13-26). San Francisco: Jossey-Bass.
Goleman, D. (2001b). An EI-Based Theory of Performance. Dalam Cary Cherniss
& Daniel Goleman (Eds.) The Emotionally Intelligent Workplace (hlm.
27-44). San Francisco: Jossey-Bass.
Goleman, D. 1995. Emotional intelligence. New York: Bantam.
Goleman, D. 1998. Working with emotional intelligence. New York: Bantam.
Goodlad, J. 1983. A place called a School: Prospects for the Future. New York:
McGraw-Hill.
Greenfield, W. D. 1987. Instructional Leadership: Cocepts, Issues, and
Controversies. Allyn & Bacon.
Kouzes, J.M. & Posner, B.Z. 2003. Academic Administrator’s Guide To
Exemplary Leadership. San Francisco: John Wiley & Sons, Inc.
Kouzes, J.M. & Posner, B.Z. 2007. The Leadership Challenge. 4th Ed. San
Francisco: John Wiley & Sons, Inc
Manasse, A. L. 1985. Improving Conditions for Principal Effectiveness: Policy
Implications of Research. Elementary School Journal, 85 (3) 439-463.
Kepribadian MKKS Halaman 56
Martin, W. J., & Millower, D. J. 1981. The Managerial Behavior of High School
Principals. Educational Administration Quarterly, 17, 69-90.
Sergiovanni, T. J. 1987. The Principalship: A Reflective Practice Perspective.
Boston: Allyn & Bacon.
Kepribadian MKKS Halaman 57
Wikipedia, Free Enciclopedia. 2009. Personality Psychology.
http://en.wikipedia.org/wiki/Personality_psychology#cite_ref-1 (diakses 20
Agustus 2009).
Willower, D. J., & Kmetz, J. T. 1982. The Managerial Behavior of Elementary
School Principals. Paper presented at the annual meeting of the American
Educational Research Association, New York.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar