Minggu, 12 Juni 2011

BAGAIMANA MENULIS KARYA ARTIKEL ILMIAH

BAGAIMANA MENULIS KARYA (ARTIKEL) ILMIAH?[1]

I

Pertama-tama, dalam menulis karya (artikel) ilmiah, dosen PTAIN perlu mengacu pada filosofi keilmuan yang dimiliki. Filosofi keilmuan tersebut ditengarai antara lain berangkat dari apa yang akan ditulis (ontologi), bagaimana cara menulis (epistemologi), dan apa manfaat dari penulisan karya (artikel) ilmiah tersebut (aksiologi). Dengan memahami filosofi tersebut, karya (artikel) ilmiah dosen sebaiknya diorientasikan secara sungguh-sungguh menuju pribadi penulis yang ahli ibadah (science for ibadah), humanis (science for humanism), ahli ilmu (science for science), dan ahli sadaqah (science for making money?). Dengan titik tolak filosofis dan orientasi demikian, maka, setiap dosen PTAIN akan selalu termotivasi untuk menulis karya (artikel) ilmiahnya secara kongkret dan bermasa-depan (dunia dan akherat?).

Untuk dapat berpikir ilmiah dengan baik, maka, diperlukan sarana berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir di mana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Ditinjau dari pola berpikirnya, maka, ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu, penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika memiliki peranan penting dalam berpikir deduktif, sedangkan statistika berperan penting dalam berpikir induktif. Bagaimana mungkin seseorang dapat melakukan penalaran yang cermat tanpa menguasai struktur bahasa yang tepat? Demikian juga, bagaimana seseorang dapat melakukan generalisasi tanpa menguasai statistika? Memang betul tidak semua masalah membutuhkan analisis statistik, tetapi hal ini bukan berarti bahwa mereka tidak peduli terhadap statistika sama sekali dan berpaling kepada cara-cara yang justru tidak bersifat ilmiah?. [2]

II

Albert Einstein (1879-1955), seorang Ahli Fisika dari Jerman, pencipta teori relativitas, telah membuka jalan baru bagi Ilmu Fisika sehingga ia mendapat hadiah Nobel pada tahun 1931. Ketika menulis “I belong to the rank of the religious men”, ia menyatakan bahwa tugas mulia Ahli Fisika adalah menemukan hukum-hukum dasar universal, yang dari hukum-hukum tersebut, kosmos dapat dibangun dengan deduksi murni. Hanya intuisi yang berdasarkan pengertian simpatik mengenai pengalaman, yang dapat mencapai hukum-hukum dimaksud.[3] Setiap usaha ke arah deduksi logis mengenai konsep-konsep dasar dan postulat-postulat mekanika yang bersumber dari pengalaman elementer, pasti akan menemui kegagalan.

Pengetahuan dan perasaan yang demikian itu terdapat pada pusat keagamaan yang hakiki. Dalam pengertian ini, dan hanya dalam pengertian inilah, Einstein termasuk golongan orang-orang yang religius penuh pengabdian.[4] Emosi yang paling indah dan paling mendalam, menurutnya, adalah kesadaran akan perkara-perkara yang sifatnya spiritual. Kesadaran tersebut merupakan kekuatan segala ilmu pengetahuan yang sejati. Orang yang tidak mengenal emosi tersebut dapat dikatakan mati. Kesanggupan manusia yang tumpul hanya dapat memahami, dalam bentuk-bentuknya yang paling sederhana, bahwa pengetahu-an adalah pusat keagamaansejati.

Mohammad Hatta juga pernah menyatakan bahwa walaupun daerah agama dan ilmuitu terpisah satu sama lain, namun, antara keduanya terdapat pertalian dan hubungan timbal-balik yang kuat. Walaupun agama yang menetapkan tujuan, namun, agama tetap belajar dari ilmu dalam arti yang seluas-luasnya seperti alat-alat apa yang sebenarnya dapat membantu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ilmu hanya dapat diciptakan oleh orang-orang yang jiwanya penuh dengan keinginan untuk mencapai kebenaran.[5] Sumber perasaan demikian tentu memancar dari daerah agama. Ke dalam daerah ini, termasuk juga kepercayaan akan kemungkinan bahwa hukum-hukum yang berlaku bagi kehidupan dunia adalah rasional (dapat diterima akal). Karenanya, Hatta tidak dapat mengerti kenapa ada cendekiawan berpengaruh tetapi tidak mempunyai kepercayaan yang mendalam.[6]

Ketika menulis makalah “Kepercayaan versus Pengetahuan”, Nurcholish Madjid pernah menyatakan bahwa,

“Penggunaan kata “versus” dalam artikel ini hanyalah sekedar untuk mencari kemudahan pemilihan kata. Untuk itu, penggunaan kata tersebut tidak menghendaki penafsiran langsung dengan arti pertentangan. Kepercayaan tidak selalu bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Begitulah klaim dari banyak sekali tokoh agama. Mungkin kepercayaan itu berbeda dari ilmu pengetahuan dalam memandang suatu masalah, tetapi tidak mesti bertentangan atau antagonis. Dalam keadaan demikian, dapat diharapkan, suatu saat, antara keduanya akan terjadi pertemuan dan persesuaian”.[7]

Sama dengan Nurcholish Madjid, Osman Bakar pernah menjelaskan bahwa,

“Semangat ilmiah tidak bertentangan dengan kesadaran religius, karena ia merupakan bagian yang terpadu dengan Keesaan Tuhan. Memiliki kesadaran akan Keesaan Tuhan berarti meneguhkan kebenaran bahwa Tuhan adalah Satu dalam EsensiNya, dalam Nama-nama dan Sifat-sifatNya, dan dalam PerbuatanNya”.[8]

Menurut Bakar, satu konsekuensi penting dari pengukuhan kebenaran sentral adalah bahwa orang harus menerima realitas objektif kesatuan alam semesta. Sebagai sebuah sumber pengetahuan, agama bersifat empatik karena segala sesuatu di alam semesta ini saling berkaitan dalam jaringan kesatuan alam melalui hukum-hukum kosmis yang mengatur mereka. Kosmos terdiri dari berbagai tingkat realitas, bukan hanya yang fisik. Tetapi, ia membentuk suatu kesatuan karena ia mesti memanifestasikan ketunggalan sumber dan asal-usul metafisiknya yang dalam agama disebut ”Tuhan”. Pada kenyataannya, Al-Qur’an dengan tegas menekankan bahwa kesatuan kosmis merupakan bukti jelas akan Keesaan Tuhan. Dalam hubungan ini, A. Mukti Ali pernah menyatakan bahwa,

“Kepercayaan terhadap Keesaan Tuhan dapat membawa akibat kepercayaan terhadap keesaan manusia dan keesaan moral. Persaudaraan dan persatuan seantero umat manusia adalah hanya merupakan akibat langsung dari kepercayaan tentang Keesaan Tuhan. Kesatuan hukum moral juga merupakan akibat langsung dari kepercayaan tentang Keesaan Tuhan”.[9]

Dalam pada itu, penjajaran atau pensejajaran istilah ilmu pengetahuan, teknologi (iptek) dan nilai-nilai spiritual dimaksudkan agar lebih provokatif. Penjajaran demikian seakan-akan menerima suatu kontradiksi yang tersirat, bahkan suatu pertentangan antara iptek dengan nilai-nilai spiritual. Pendapat ini keliru dan harus ditolak dengan argumen: “Apakah yang dimaksud dengan istilah ‘nilai-nilai spiritual’? Apakah dengan ini dimaksudkan nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai moral, atau etika?”. Tidak satu pun dari ketiganya memiliki arti yang persis sama dengan nilai-nilai spiritual kendati ketiganya saling tumpang tindih. Agama, misalnya, merupakan sumber nilai-nilai spiritual yang utama bagi kebanyakan orang, tetapi, mereka yang tidak memeluk kepercayaan keagamaan tertentu juga dapat memiliki nilai-nilai spiritual. Bagaimanapun tidak memuaskannya, pemanfaatan definisi negatif, definisi yang paling sederhana bagi nilai-nilai spiritual adalah nilai-nilai nonmaterial yakni nilai-nilai yang dipeluk tanpa acuan pada tujuan-tujuan duniawi dan bersifat fisik.

Nilai spiritual tertinggi adalah kebenaran[10] dan kebenaran yang absolut adalah kebenaran agama. Visi mengenai kebenaran merupakan sesuatu yang sentral bagi semua agama. Klaim terhadap pemahaman akan hakikat tertinggi dari kebenaran adalah yang memberi legitimasi terhadap agama. Nilai ilmiah yang tertinggi adalah kebenaran kendati aspirasi-aspirasi ilmu pengetahuan lebih terbatas daripada aspirasi-aspirasi agama. Baik ilmu, filsafat maupun agama memiliki tujuan yang sama yaitu kebenaran. Ilmu pengetahun, dengan metodenya, mencari kebenaran tentang alam, termasuk di dalamnya, manusia. Filsafat, dengan wataknya, menghampiri kebenaran, baik tentang alam, manusia maupun Tuhan. Agama, dengan karakteristiknya sendiri, memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia, baik tentang alam, manusia, dan Tuhan.

Dengan perbedaan – bukan pertentangan – antara substansi wilayah ilmu dan agama, akhirnya berakibat pada pencarian metode dan pendekatannya. Mula-mula pendekatan yang berkembang adalah pendekatan tradisional yang banyak dikembangkan di lembaga-lembaga ”model pesantren” atau ”model PTAIN”. Pendekatan ini secara sederhana lebih mengutamakan peran wahyu daripada akal. Selanjutnya, pendekatan ”model sekolah” atau ”model PTN” yang ditengarai sebagaipendekatan modern karena lebih mengedepankan peran akal daripada wahyu. Kedua pendekatan yang dikembangkan lembaga-lembaga tersebut melihat wahyu dan akal secara struktural, bukan secara fungsional. Dari kedua pendekatan tersebut, mereka yang menamakan diri sebagai ‘pakar’ akhirnya mengenalkan beberapa pendekatan: naqliyah dan aqliah, jabariah dan qadariah, teologis dan antropologis, tekstual dan kontekstual, skriptural dan substansial, absolut dan relatif, normativitas dan historisitas, doktrinal dan saintifik, transenden dan empiris, kualitatif dan kuantitatif, taklid dan ijtihad, bi al-riwayah dan bi al-ra’yi, tathbiq al-syari’ah dan tajdid al-fahm atau strukturalisme transendental, eksternalisasi dan objektifikasi Islam, eksklusif dan inklusif, otoriter dan demokratis, individual dan kolektif, dan lain sebagainya.

Secara substansial, antara pendekatan yang satu dengan yang lain sebenarnya sama. Pendekatan-pendekatan tersebut memang tampak menarik lebih-lebih jika mereka yang ‘pakar’ menjelaskannya dengan bumbu-bumbu ilmiah yang mengasyikkan (game of language). Meskipun demikian, masyarakat yang gamang dan bingung dengan pendekatan-pendekatan yang beraneka ragam tersebut, sesungguhnya perlu juga dikenalkan dengan pendekatan baru yakni pendekatan ’finansial’ dalam melakukan kajian agama (Islam), keilmuan, dan budaya (khususnya). Jadi, ketika seseorang melakukan kajian-kajian tersebut, yang diinginkan atau yang akan dicapai bukan sekedar ilmu dan pahala ukhrawi, tetapi juga ilmu dan pahala duniawi (’finansial’). Prof Qodri A. Azizy, meski tidak secara eksplisit menyebut pendekatan finansial, pernah menyebutnya dengan ‘orientasi pada penyiapan SDM for a better lifedan kewajiban untuk hidup memperoleh hasanah fi al-dunya’

III

Suatu karya tulis dapat dikategorikan sebagai karya ilmiah apabila memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut: (1) Metodologi: berdasarkan metodologi ilmiah seperti kritis, analitis, objektif, dan sistematis; (2) Substansi: a) uraian harus sesuai dengan tema; b) memberi sumbangan dalam pengembangan ilmu pengetahuan sesuai bidangnya; (3) Teknik dan Bahasa: a) memenuhi ketentuan teknis penulisan karya ilmiah seperti daftar isi, kutipan, dan daftar pustaka; b) bahasa yang digunakan baik, benar, dan mudah dipahami. Selanjutnya, suatu karya tulis tidak dapat dogolongkan sebagai karya ilmiah apabila hanya berupa pengulangan atau kutipan pendapat orang lain tanpa menyebutkan sumbernya dan atau tanpa mengemukakan pendapat sendiri yang disertai bukti atau alasan yang kuat.

Esensi kerja penelitian ilmiah atau karya (artikel) ilmiah adalah menggarap pengetahuan yang benar dan kebenaran pengetahuan. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang logis dan objektif. Pengetahuan yang logis adalah pengetahuan yang didukung data. Kerja penelitian biasanya mengarah pada sebuah karya ilmiah. Karya ilmiah adalah karya yang mengikuti kaidah, peraturan, dan jalan pikiran yang berlaku dalam pengetahuan serta memberikan sumbangan kepada khazanah ilmu pengetahuan di bidang masing-masing.

Penulisan karya ilmiah adalah suatu jenis penulisan yang biasanya dilakukan di sebuah Perguruan Tinggi (mis. PTAIN/S). Penulisan jenis ini berbeda dari jenis-jenis penulisan lain (surat pribadi, karya sastra, karya jurnalistik, dan karya bisnis). Perbedaan-perbedaan tersebut dapat dilihat dalam 3 hal: pembaca (audience), gaya, dan tujuan penulisan.

  • Pembaca:

Kapan pun anda menulis, anda harus memperhatikan siapa pembaca karya anda yakni mereka yang akan membaca tulisan anda. Mengetahui siapa pembaca karya anda, akan sangat membantu anda berkomunikasi dengan mereka secara jelas dan efektif. Dalam penulisan karya ilmiah, pembaca karya anda adalah dosen, pembimbing, dan penguji anda.

  • Gaya:

Bukan hanya pembaca karya anda, tetapi gaya penulisan anda juga harus mendapatkan perhatian. Gaya tulisan akan mencerminkan sikap anda, dan ini dapat dilakukan dengan kepandaian anda dalam memilih kata-kata, tata bahasa, panjang-pendek kalimat yang akan anda gunakan dan lain sebagainya. Misalnya, surat kepada teman anda tentu akan sering menggunakan bahasa/logat populer (slang expression) dan kalimat-kalimat aktif, sedang karya ilmiah akan sering menggunakan kata-kata yang sangat teknis, impersonal, dan kalimat-kalimat pasif.

  • Tujuan:

Tulisan-tulisan karya sastra biasanya memiliki tujuan untuk menghibur, tulisan-tulisan jurnalistik biasanya untuk memberi informasi dan persuasi, sedang tujuan tulisan karya ilmiah adalah untuk menjelaskan dan meyakinkan kebenaran sebuah pandangan kepada para pembaca, yang biasanya dimulai dengan paragraf-paragraf tunggal dan kemudian membangun beberapa paragraf lainnya.

  • Beberapa Langkah Penulisan:

- Pra Penulisan:

1. Membaca dan meneliti karya-karya lama, melakukan refleksi dan menentukan judul karya (artikel) ilmiah;

2. Memilih dan mempersempit topik (umum, spesifik, sangat spesifik);

3. Brainstorming (membuat daftar).

- Perencanaan Penulisan (Membuat Outline):

1. Membuat daftar.

2. Mengelompokkan (klasifikasi).

3. Membuat outline sederhana.

- Penulisan Draft:

1. Menyusun latar belakang (keprihatinan/keresahan/argumen akade-mik), membuat masalah, menentukan metode dan pendekatan, melakukan pembahasan yang analitis, dan membuat kesimpulan (ada kemungkinan perubahan dalam proses penulisan);

2. Membuat topic atau key sentence dilanjutkan dengan supporting sentences, danconcluding sentence (setiap alinea terdiri dari 5 (minimal) s.d. 8 kalimat (maksimal);

Contoh:

Topic sentence:

One of the city’s biggest problem is the unreliability of its public transportation.

Supporting sentences:

Daily schedules are unreliable (late arrivals, arrive in bunches), passangers are victims etc.

Concluding sentence:

So they (passengers) are late to appointments, work, classes, or

So they (passengers) must allow to extra time to wait for buses.

3. Menulis draft awal dan kasar;

4. Memperbaiki isi dan susunan karya (artikel) ilmiah;

5. Melakukan checking tata bahasa;

6. Konsisten dengan tata cara dan pedoman penulisan;

7. Memiliki tekad menemukan orisinalitas dan tidak berniat menjiplak karya orang lain meski “there is nothing new under the sun”.

- Penulisan Naskah Final

BEBERAPA CATATAN AKHIR

TEKNIK/BAHASA

1. Bagaimana menulis daftar pustaka?;

2. Berapa jumlah daftar pustaka?

3. Berapa jumlah halaman (mis. proposal skripsi, tesis, disertasi)?

4. Berapa jumlah halaman (artikel ilmiah)?

5. Bagaimana menulis footnote (catatan kaki) atau in body note (catatan perut)?

6. Bagaimana hubungan antara pendahuluan, rumusan masalah, pembahasan, dan kesimpulan?

7. Proposal skripsi, tesis, disertasi bukan merupakan bab pendahuluan;

8. Kapan menulis bab pendahuluan skripsi, tesis, disertasi?

9. Setelah angka halaman (pakai titik), tidak perlu pakai hal. atau hlm.

DELAPAN POINT PENTING

1. Substansi (masalahnya apa?); latar belakang: keprihatinan/keresah-an/argumen akademik apa?

2. Metodologi (bagaimana menyelesaikan masalah?); pengertian tentang metodologi tidak perlu ditulis panjang lebar;

3. Teknik dan Bahasa (bagaimana menuliskannya?; jangan terlalu menonjolkangame of language)

4. Tinjauan Pustaka: membaca/meneliti karya-karya ilmiah/penelitian-penelitian lama/sebelumnya (prior researches) kemudian memban-dingkannya dengan karya sekarang (present research); di mana letak perbedaannya?

5. Kontribusi atau temuan baru (penelitian paten) adalah yang terpenting;

6. Berkala Ilmiah (Scientific Journal, Scientific Periodicals): Berkala yang melaporkan hasil dan temuan baru penelitian; isinya berkeorisinalan (orisinalitas) tinggi yang dilengkapi dengan perincian ilmiah untuk mengevaluasi kesahihan argumen atau hasil yang disajikan secara padat dan pekat dengan kosakata dan istilah yang tidak terbatas jumlahnya.

7. Berkala Semi Ilmiah (Semi Popular Journal): Berkala yang memuat tulisan teknis buat kalangan terpelajar yang bukan spesialis dalam bidang termaksud (tertentu); biasanya memuat gagasan dan tinjauan berdasarkan pustaka acuan; penyajiannya padat, tetapi kosakatanya kurang dari 4000 karena istilah teknis yang dipergunakan harus dikenal (oleh kaum terpelajar);

8. Lain-lain: Tugas perguruan tinggi bukan hanya menransfer iptek. Universitas punya misi mendasar yaitu menghimpun, memelihara, dan menransfer nilai,knowledge yang baru kepada generasi baru. Nilai-nilai baru itu adalah kerja keras, penghormatan kepada orang lain, semangat berbangsa dan bernegara, serta budaya baca (Dodi Nandika, SKH Kompas, 21 Nopember 2006), 12.


[1] Prof Dr H Siswanto Masruri, MA, Disampaikan pada Pembukaan Workshop Penulisan Artikel Ilmiah Untuk Jurnal Internasional (Bidang Ilmu-Ilmu Sosial) di UIN Sunan Kalijaga, 12 Nopember 2010.

[2] Jujun Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapabn, 2007), 167.

[3] Sarvepalli Radhakrishnan (Editor), History of Philosophy: Eastern and Western,volume I (London: t.p., 1952 ), 441.

[4] Lincoln Barnett, The Universe and Dr. Einstein (New York: t.p., t.th.), 117; lihat juga, Soedewo P.K., Islam dan Ilmu Pengetahuan (Jakarta: t.p., t.th.), 77.

[5] Manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Ada 3 (tiga) teori tentang kebenaran: (1) Teori Korespondensi atau Realisme, yakni kebenaran yang sesuai dengan fakta; (2) Teori Konsistensi atau Idealisme, yakni kebenaran yang berhubungan dengan kebenaran lain; (3) Teori Pragmatis, yakni kebenaran yang memuaskan manusia. Sejalan dengan itu, ada 3 (tiga) jalan untuk mencari, menghampiri, dan menemukan kebenaran, yaitu ilmu, filsafat, dan agama. Ketiga cara ini memiliki ciri-ciri tersendiri dalam menemukan kebenaran. Ketiga institut ini memiliki titik-persamaan, titik-perbedaan, dan titik-singgung antara yang satu dengan yang lainnya; lihat, Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat, dan Agama (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1987), 18-32 dan 171.

[6] Science without religion is lame and religion without science is blind (ilmu tanpa agama akan lumpuh dan agama tanpa ilmu akan buta); lihat juga, Mohammad Hatta,Islam, Masyarakat, Demokrasi, dan Perdamaian (Jakarta: 1957), 25; Mohammad Hatta, Pengantar Ke Jalan Ilmu dan Pengetahuan (Jakarta: P.T. Pembangunan, 1970), 45-50; Mohammad Hatta, Ilmu dan Agama (Jakarta: Yayasan Idayu, 1983), 5-20.

[7] Nurcholish Madjid, “Keperecayaan Versus Pengetahuan” dalam Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan (Bandung: Mizan, 1987), 264.

[8] Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and Philosophy of Islamic Science, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Yuliani Liputo dengan judul, Tauhid dan Sains, Esai-Esai tentang Sejarah dan Filsafat Sains Islam (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), 11-2.

[9]A. Mukti Ali, Keesaan Tuhan dalam al-Qur’an (Yogyakarta: Nida, 1972), 12.

[10] Lihat, nisbah antara kebenaran ilmu, filsafat, dan agama, dalam Endang Saifuddin Anshari, Ilmu ….., 171-8. Dalam buku ini disebutkan ‘minimal’ tiga teori tentang kebenaran. Dikatakan ‘minimal’ karena masih ada teori yang lain kurang mendapatkan perhatian yakni Teori Empiris yang menyatakan bahwa suatu proposisi dapat dijabarkan menjadi proposisi mengenai pengalaman indra yang sungguh-sungguh terjadi; lihat, Louis O. Kattsoff, Unsur-unsur Filsafat, terjemahan Soejono Soemargono (Yogyakarta: Stensilan, 242-3); lihat, Charles A. Baylis, dalam Dagobert D. Runes (Editor), Dictionary of Philosophy (New Jersey: 1963), 321; lihat juga, A.C. Ewing, The Fundamental Questions of Philosophy (New York: 1962), 61.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar